Bersama Tetesan Hujan

Balakosa

Bersama Tetesan Hujan

PENUTURAN PENDAMPING


Namaku. Tidak ada. Aku tanpa nama. Aku dari langit dan diturunkan ke bumi bersama bulir-bulir air hujan yang terjun bebas ke bumi. Aku bukan manusia. Aku juga bukan dewa. Aku hanya semacam pendamping untuk anak-anak dewa yang dibuang atau diturunkan ke bumi. 

Kalian pikir cuma di bumi, makhluk yang tidak punya hati berada dan beranak-pinak? Di langit. Tempat tinggal para dewa. Banyak juga  semacam manusia. Mereka seperti tidak punya perasaan terhadap buah hati mereka sendiri yang diperlakukan tak jauh beda dengan onggokan sampah. Tidak terhitung bayi-bayi dewa yang dibuang ke bumi. Tetapi, bayi-bayi dewa masih lebih beruntung dari bayi-bayi manusia. Sebab bayi-bayi dewa turun ke bumi bersama tetesan hujan dan jikalau dia bernasib mujur, dia akan bertemu perempuan yang sedang mengandung dan berdiamlah dia di dalam rahim si ibu dan berangsur-angsur bersemayam di raga si cabang bayi manusia. Sehingga ketika anak manusia itu lahir, maka jadilah dia titisan dewa. Tugas para pendamping kadang kala hanya untuk mencarikan mereka rahim untuk bersemayam dalam raga si cabang bayi tapi kadang kala pendamping harus mendampingi si titisan dewa hingga waktu yang telah disepakati.

Kau tidak percaya ceritaku?

Bayi-bayi dewa yang terbuang hanya bisa selamat dengan cara seperti itu. Dan hal itu tidak ada ruginya buat calon bayi manusia yang dihinggapi. Bayi manusia itu malah mendapat semacam berkah. Dia tidak akan terlihat sebagai manusia biasa, dia pasti dikaruniai kelebihan yang membuatnya akan terlihat menonjol dibanding manusia yang lain, bisa jadi wajahnya terlihat lebih memikat, atau kecerdasan anak manusia tersebut menjadi di atas rata-rata, atau bisa jadi sudah menunjukkan bakat seorang pemimpin yang kuat. Dan, kami, para pendamping akan mengenali anak-anak manusia yang disemayami oleh anak dewa karena walaupun selaku pendamping kami adalah makhluk metafisika buat manusia, tetapi sebagai sesama pendamping kami bisa saling melihat fisik masing-masing.

Dan, aku, adalah pendamping putera Dewa Astula yang kasusnya turun ke bumi agak berbeda dengan bayi dewa lain. Apabila bayi-bayi dewa lain dibuang karena tidak diinginkan, sementara Dewa Balakosa diturunkan ke alam fana malah karena sangat diinginkan kedua orangtuanya.

Dewa Astula membuang puteranya dikarenakan ramalan yang diutarakan Dewi Aruna, saudara kandung Dewa Astula. Dewi Aruna berujar mengenai kehancuran kerajaan Astula akan datang dengan lahirnya putera mahkota, kecuali putera mahkota tersebut diturunkan ke bumi sehingga kesialan yang dibawanya ketika lahir ditinggalkan di bumi. Awalnya Dewa Astula tidak percaya, betapa beliau sangat menginginkan puteranya tersebut setelah dengan sabar melewati kelahiran demi kelahiran 14 puterinya. Doanya tersebut akhirnya terkabul di angka 15. Namun, Dewi Aruna tidak memberikan pilihan lain. Upacara 'buang sial' harus dilakoni Dewa Astula untuk kejayaan Kerajaan Surgaloka dengan mengarungkan putera mahkota ke alam manusia. Dengan demikian, terbebaslah Kerajaan Kahyangan di bawah kepemimpinan Dewa Astula dari marabahaya keruntuhan. 

Itulah awal ceritanya, aku dipanggil Dewa Astula. Aku adalah pendamping terbaik diantara ribuan pendamping dan tugasku adalah menjaga dan memastikan bahwa putera Dewa Astula - Dewa Balakosa - bisa menemukan rahim seorang perempuan untuk bersemayam. Seandainya tidak ditemukan selama 3 hari, maka Dewa Balakosa akan berangsur-angsur sirna dari alam karena energinya disedot oleh energi inti bumi.

Ini adalah hari pertama kami turun ke bumi bersama tetesan hujan. Aku mengamati Dewa Balakosa yang masih merah. Dia terlihat sangat tampan dan tenang. Kami mendarat di tumpukan sampah yang menggunung. Baunya luar biasa memutarbalikkan isi perut. Tetapi Dewa Balakosa tidak terpengaruh, di dalam gelembung yang mengambang dia tertidur pulas. Kupandangi kakiku yang transparan menapak di atas tumpukan sampah yang berlendir dan ujung ekorku menempel pada gelembung yang berisi Dewa Balakosa, kemanapun aku bergerak gelembung tersebut tak akan lepas dari ekorku selama energi hidupnya masih ada. Dan biasanya energi hidup rata-rata bayi dewa tidak lebih dari 72 jam.


Berburu Rahim