~zero~

RED SOUL

~zero~

Sebuah ruangan berukuran 6x7 m, bernuansa serba putih, hanya memiliki sebuah tempat tidur, sebuah sofa panjang dan sebuah meja. Sebuah lemari kecil berdiri di samping kanan tempat tidur. Di samping kanannya lagi, bertengger sebuah meja dorong tempat untuk meletakkan makanan di atas tempat tidur.

Tepat di samping kiri tempat tidur, berdiri tegak sebuah tiang penyangga botol infus. Cairan di dalam botol infus itu mengalir pada selang hingga terhubung dengan lengan kiri seorang gadis yang terbaring pucat di tempat tidur.

Gadis itu membuka matanya. Tak ada keluarga yang menemani. Hanya ada Donghae, seorang pria pemilik sebuah restoran Korea di jantung kota London, yang juga adalah tetangga gadis itu. Ia menemani gadis itu saat terbaring lemah di rumah sakit.

"Ga Eun-ah," bisik Donghae saat menyadari gadis yang sedang ditunggunya telah sadar.

Gadis yang dipanggil Ga Eun itu hanya tersenyum lemah.

"Gomawo," ucap Ga Eun hampir tak bersuara.

Donghae hanya menggenggam tangan kanan Ga Eun seolah mencoba memberikan kekuatan pada gadis itu.

"Sampai kapan harus memakskan diri seperti ini, hmm? Aku yakin dia tak mempedulikan keadaanmu. Berhentilah. Jebal."

Donghae tak kuasa menahan airmatanya. Kedua mata embun itu akhirnya berair. Ga Eun berusaha menghapus airmata itu.

"Aku akan berhenti, Oppa. Aku janji. Tapi tidak sekarang."

Mendengar itu Donghae seketika meraih tangan mungil yang menyentuh wajahnya.

"Maka jangan pula memaksaku untuk berhenti. Aku akan terus melakukannya meski kau selalu menolak."

"Jeongmal gomawo."

Ga Eun kembali menutup matanya tanpa mempedulikan airmata Donghae.

Sekali lagi ponsel Ga Eun yang terletak di atas lemari, bergetar. Donghae melihat nama Cho Kyuhyun terpampang di layarnya. Tersirat kebencian pada nama itu.

***

Namja tampan bermata bulat itu kembali membanting ponselnya. Untuk yang kelima kalinya ia tak mendapat respon atas panggilan ponselnya pada tunangannya. Raut kesal tergambar jelas di wajahnya. Tak biasanya namja itu mendapatkan perlakuan seperti itu dari kekasihnya.

"Kau kenapa?" tanya Hyuk Jae, manajer namja itu.

Namja itu, tanpa ekspresi, hanya menatapnya sekilas lalu berdiri dan berjalan meninggalkan manajernya setelah meraih ponsel yang tergeletak di lantai.

"Yak!! Kyuhyun-ah!!" Hyuk Jae mengejar namja yang dipanggil Kyuhyun itu.

"Jangan ikuti aku," ujar Kyuhyun dingin, sembari masuk ke dalam mobilnya.

"Yak!! Kau mau kemana? Lima belas menit lagi kita harus rekaman di studio 5. Kau tak bisa pergi begitu saja," cegah Hyuk Jae menahan pintu mobil Kyuhyun.

"Aku ada urusan," Kyuhyun menarik paksa pintu mobil yang ditahan Hyuk Jae agar menutup.

Tanpa mempedulikan kegelisahan manajernya, Kyuhyun menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan gedung studio FF Television.

"Yak!! Cho Kyuhyun!!" teriak Hyuk Jae frustasi.

Terlihat dari kaca spion mobil Kyuhyun, Hyuk Jae menjambak rambutnya dengan kedua tangannya dan menatap kepergian mobil sedan merah yang baru saja meninggalkannya. Tergambar kekacauan yang akan terjadi lima belas menit lagi ketika anak itu terlambat untuk kembali. Namun ia tetap tak peduli.

Kyuhyun masih berusaha menghubungi kekasihnya. Dua kali selama perjalanannya ke gedung Sun Magazine, masih juga tak membuahkan hasil.

"Yak!! Han Ga Eun!! Jawab teleponku!!" teriak Kyuhyun di dalam mobilnya.

"Baiklah. Kalau itu maumu, akan kuselesaikan sendiri," Kyuhyun lalu beralih menghubungi seseorang yang sangat dimusuhinya, salah satu penulis di Sun Magazine.

"Ne," jawab orang itu saat menerima panggilan Kyuhyun.

"Temui aku di lobi sekarang!!" teriak Kyuhyun lalu mematikan ponselnya.

"Awas saja kau, Kim Ryeowook. Kau harus tanggung akibatnya," desis Kyuhyun mengeratkan kedua rahangnya dan mengepalkan tangan kanannya.

Kyuhyun memarkir mobilnya di halaman depan Sun Magazine. Ia bergegas mencari Kim Ryeowook, seseorang yang tadi dihubunginya.

Begitu melihat sosok Kim Ryeowook berdiri dengan santai di lobi depan, kepalan tangan Kyuhyun semakin kuat. Tatapan kebencian juga semakin terlihat jelas di kedua matanya.

Tanpa aba - aba, Kyuhyun langsung menghadiahi wajah putih Ryeowook dengan tinju dari tangan kanannya. Tanpa pertahanan, tubuh Ryeowook roboh ke lantai.

"Masih berani menulis cerita bohong seperti itu, ha?!!" teriak Kyuhyun sambil menarik kerah baju Ryeowook hingga membuat namja kurus itu berdiri.

Tak ada yang mencoba menjauhkan Kyuhyun dari Ryeowook. Tak seorangpun yang memperhatikan apa yang tengah dilakukan Kyuhyun pada salah satu karyawan andalan Sun Magazine itu.

Ryeowook pasrah pada tarikan kasar Kyuhyun. Ia hanya nyengir sambil mengusap sudut bibir kirinya yang sedikit berdarah. Tatapan tajam Kyuhyun tak membuatnya takut sedikitpun. Justru membuat Ryeowook semakin berani menatap Kyuhyun, dengan santai namun tajam.

"Aku tak melakukan apapun, Kyuhyun-ssi. Kaulah yang melakukannya. Mata tombak yang kau lempar akan kembali padamu," bisik Ryeowook dengan nada sedikit tegas.

Kyuhyun seolah merasa tertampar dengan ucapan Ryeowook itu. Ia melemahkan cengkeraman tangannya pada kerah baju Ryeowook. Kini, ia justru mendapatkan tatapan sinis dari namja yang lebih kurus darinya itu.

"Apa kau pikir dia baik - baik saja dengan keadaanmu? Ingat satu hal Kyuhyun-ssi, kekuatanmu bukanlah murni milikmu. Dia mengorbankan setengah dari kekuatannya untuk menghidupkanmu. Dia akan mati 3 tahun lagi," Ryeowook meremas kedua tangan Kyuhyun yang masih memegang kerah bajunya lalu mengibaskannya dengan kasar.

"Dan apa yang kutulis bukanlah sebuah cerita bohong. Ga Eun tidak akan bisa menikah denganmu. Atau kau akan mati. Pilihan ada di tanganmu sendiri, Kyuhyun-ssi," ujar Ryeowook sinis lalu meninggalkan Kyuhyun sendiri di lobi depan kantornya.

***

Sebuah cahaya biru tampak masuk melalui jendela ke ruangan putih tempat Ga Eun berbaring dan belum sepenuhnya sadar. Cahaya itu berhenti tepat di samping tempat tidur Ga Eun. Lambat laun, cahaya itu berubah menjadi sosok manusia perempuan yang sangat cantik. Rambutnya yang blonde sepanjang punggung, bibir tipis merona, bulu mata yang lentik, dan leher panjang yang jenjang. Hampir mirip seorang bidadari. Namun ia memakai pakaian layaknya manusia biasa.

Wanita itu menatap Ga Eun dengan seksama kemudian meletakkan jari telunjuk kanannya tepat di antara kedua alis Ga Eun. Sebuah cahaya biru tampak keluar dari ujung jari wanita itu dan menelusup masuk ke bawah kulit di antara kedua alis Ga Eun.

Seketika wajah pucat gadis itu menghilang dan tergantikan oleh wajah merona.

Ga Eun membuka matanya bersamaan dengan wanita itu menarik tangannya dari wajah Ga Eun.

"Kau sudah bangun?" tanya wanita itu sambil tersenyum.

"Bibi," Ga Eun bangun, duduk dan langsung memeluk pinggang wanita yang telah membangunkannya itu.

"Apa yang terjadi? Mengapa kau masih belum mau berhenti?" tanya bibi Ga Eun sambil mengusap rambut gadis itu.

"Aku tak tau. Aku tak melakukan apapun. Aku bahkan sama sekali tak memikirkannya," Ga Eun melepaskan pelukannya lalu menatap bibinya.

"Apakah mungkin dia menarik kekuatanmu?"

"Bisakah?" Ga Eun mengerutkan dahi.

"Dia sudah memiliki setengah dari kekuatanmu. Bukan hal yang tak mungkin untuk dia bisa melakukannya. Dia sudah terhubung denganmu secara langsung, Ga Eun-ah."

"Tapi untuk apa?"

"Itu yang harus kau cari tau. Jika kau biarkan seperti ini terus kau akan kehilangan waktumu dalam 3 tahun."

"Secepat itukah?" Ga Eun menatap bibinya tak percaya.

"Bisa lebih lama lagi," tiba - tiba terdengar suara berat seorang laki - laki yang usianya hampir sama dengan bibi Ga Eun.

Ga Eun dan bibinya menoleh ke sumber suara, yang entah kapan masuknya tapi ia sudah tampak duduk santai di sofa panjang.

"Paman," sapa Ga Eun pada laki - laki itu.

"Jangan menakutinya, Hyo. Dia masih punya hak untuk hidup lebih lama lagi," ujar paman Ga Eun yang kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur Ga Eun.

"Bagaimana?" tanya Hyoyeon, bibi Ga Eun.

"Kau harus menikahinya dan mengambil kembali kekuatanmu darinya," jawab Siwon, paman Ga Eun.

"Choi Siwon!!" teriak Hyoyeon marah.

"Bukankah itu satu - satunya cara?" tanya Siwon dengan santai.

"Kalau akhirnya harus seperti itu, kenapa dulu Ga Eun harus menghidupkan laki - laki itu?"

"Karena Ga Eun terlalu baik hati," celetuk Siwon.

"Saat itu aku melihat dia memiliki jiwa merah," jawab Ga Eun menatap Siwon.

"APA KATAMU?!!" Hyoyeon dan Siwon berteriak bersama.

"Jiwa merah katamu?" tegas Siwon mempertanyakan ucapan Ga Eun.

Ga Eun mengangguk tegas.

"Kenapa kau tak mengatakannya pada kami?!!" Siwon memutar tubuhnya sambil meremas rambut tebalnya, menutup mata tanda frustasi.

"Mengapa? Bukankah jiwa merah adalah jiwa yang harus dilindungi?" tanya Ga Eun polos.

"Kau benar. Jiwa merah merupakan jiwa yang harus kita jaga. Tapi bukan semata - mata agar dia bisa hidup bebas, melainkan agar dia tak memakan jiwa lain yang tak berdosa," jelas Hyoyeon pada Ga Eun.

"Maksudnya?" Ga Eun masih tak mengerti.

"Maksudnya adalah jiwa merah itu sangat berbahaya," tegas Siwon dengan mata berkilat.

Ga Eun tercengang dengan pernyataan pamannya. Pernyataan yang tak pernah ia dengar sebelumnya.

Ga Eun akhirnya menyadari satu hal. Semenjak ia menyelamatkan Kyuhyun dari kecelakaan maut 2 tahun yang lalu, sejak saat itulah banyak kejadian aneh yang terjadi di sekitar namja itu.

0

0

0

0

0

Annyeong,

Please like and comment nya ya, kak. Ini adalah cerita fantasiku yang pertama. Semoga kalian suka^^

Happy reading^^