Babak Pertama | SATU

APATIS

Babak Pertama | SATU

Nama gua Fabio Hendrawan. Oktober nanti, gua genap berusia 16 tahun. Sebagai pemeran utama dalam cerita ini, gua enggak bisa deskripsikan diri gua sendiri secara detail, baik fisik maupun sifat. Takutnya, nanti kalau gua bilang, gua ini orang yang ganteng, lu enggak percaya. Kalau gua bilang gua ini pinter, lu enggak terima. Jadi biar adil, gua serahin sama lu saja buat menilai gimana gua. Semuanya terserah.

Seminggu ini gua resmi jadi siswa SMA di salah satu sekolah negeri di Tangerang. Enggak perlulah gua sebutin nama sekolahnya, takutnya nanti lu datang, minta tanda tangan, kan repot.  Atau ... malah gua enggak enak, kalau ternyata lu satu sekolah sama gua, dan lewat cerita ini lu tahu gua siapa, dan diam-diam ambil foto gua, posting di Instagram, ah ... panjang urusan. Gua enggak mau! Gua belum siap terkenal.

Intinya, sih, gua mau lu coba nikmati saja cerita ini sampai tuntas. Segitu saja cukup. Beneran!

Nah, di sini gua sekolah enggak sendirian. Maksudnya ada teman sejak SMP yang juga sekolah di tempat yang sama. Bahkan satu kelas. Begonya lagi satu meja. Iya, kalau orang lain masuk lingkungan baru harusnya punya teman semeja baru, gua enggak. Kelas sepuluh ini teman semeja gua adalah teman semeja sejak kelas dua SMP. Dia bilang, gua ini sohibnya. Indikasi alay? Iya!

Redy selalu berkelakar, kalau dia tahu banyak tentang gua. Kartu As gua sudah dia pegang. Tapi gua juga ngotot, enggak mau kalah. Gua bilang kalau gua juga tahu segalanya tentang dia, luar-dalam. Kami sama-sama tahu tabiat masing-masing. Kebiasaan jelek-baik. Di sekolah mau pun di rumah. Semuanya.

Jangan mikir kalau kami tinggal serumah. Sama sekali bukan. Cuma memang, tiap weekend Redy sering nginap. Kata dia lagi, rumah keluarga gua adalah rumah keduanya di bumi. Kampret. Bilang saja lu enggak dianggap anak sama orang tua lu!

Iya, dia lebay. Tapi biar gitu, boleh dibilang Redy ini setia kawan. Dia jadi orang pertama yang bela gua tiap ada sesuatu yang enggak enak menimpa gua. Dia memanfaatkan badannya yang lebih berisi dari gua buat mengintimidasi. Pernah waktu SMP, dia hajar kakak kelas yang malak gua. Ya, walau akhirnya dia pun ikut bonyok dihajar teman-teman dari yang dia hajar. Enggak usah dikasihanin, dia sesungguh lebih tegar dari kelihatannya.

“Woy, Mpret. Lu malah bengong. Ini tugas mau kapan dikumpul? Yang lain pada udah, tuh.”

Iya, dia Redy. Mpret adalah panggilan sayang dia buat gua. Mpret diambil dari kata Kampret. Tapi dia bilang, nama itu bagus. Dia pernah baca novel Supernova yang ditulis Dee Lestari ada karakter yang diberi nama Toni alias Mpret. Katanya, itu karakter hacker jalanan yang keren. Tapi gua bukan Toni, Keplek!

Kalau Mpret nama panggilan yang dikasih Redy buat gua. Keplek adalah panggilan sayang gua buat dia. Enggak kalah menarik, Keplek ini pun diambil dari karakter detektif yang dibuat novelis terkenal, Rudiyant. Jadi, gua rasa pas, lah.

“Lu kenapa, sih? Kesambet? Sembelit?” Dia meletakkan telapak tangan di kening gua sesaat, kemudian dia selipkan telapak tangan itu di ketiaknya. “Enggak demam, ah. Tapi lumayan anget, sih.”

“Sinihin buku gua! Enggak tahu diri, lu. Gua telat ngumpulin gara-gara lu.”

Redy nyengir. “Salah satu hal kenapa gua enggak mau pisah dari lu, ya gini. Kalau kepepet lu selalu bisa diandalkan,” katanya.

“Otak lu pakai juga buat mikir, jangan on fire-nya sama konten mesum doang!” Kami memang tidak sungkan untuk saling lempar kalimat sarkas satu sama lain. Tapi jangan pikir kalau hal itu berani kami sampaikan ke yang lain. Enggak.

“Terima kasih pujiannya, Mpretnya gua.”

“Berisik lu.”

Redy merapikan alat tulisnya, dan segera menyimpannya di kolong meja. “Gua titip buku tugasnya juga ya, Mpret?”

“Ogah!”

“Gua mau daftar ekskul, ini. Udah enggak bisa ditunda-tunda,” katanya. Dia berdiri merapikan seragamnya. “Gua udah mutusin buat masuk KIR.”

“Heh?” Gua menatap Redy dengan raut mengejek.

“Ada kakak kelas incaran gua. Gila cantik banget, Mpret. Gua mau yang berhijab.” Sama sekali tidak memedulikan pandangan merendahkan yang gua buat, Redy terus saja berceloteh. “Kali ini lu harus do’ain gua, supaya dapet.”

“Katanya lu mau ikutan ekskul olah raga. Ngapain lu masuk karya ilmiah?”

“Itu dulu, Mpret. Olah raga itu panas, nah KIR ini adem. Ada yang hijaban. Cantik pula.” Kali ini Redy merapikan gaya rambutnya dengan kedua tangan, yang sebenarnya masih rapi. “Udah cape tiga tahun ikutan olah raga. Kali ini apa salahnya berkunjung ke oase.”

“Gaya lu!”

“Udah, gua cabut dulu. Takut ketinggalan. Calon anggota KIR memang harus jadi contoh,” tanpa menunggu gua berkomentar, dia langsung beranjak dari tempat duduknya. “Jangan lupa itu dikumpul, Mpret!,” katanya saat melewati pintu kelas.

Tinggalah gua di kelas. Ada beberapa anak sih, di sini. Tapi prioritas gua saat ini adalah mengantarkan buku tugas, bukan ngobrol. Takutnya guru gua ini keburu mencak-mencak. Lagi pula perut rasanya sudah manggil-manggil minta asupan, jadi harus disegerakan.

Gedung sekolah ini berbentuk letter U dengan dua lantai, ditambah satu baris bangunan di masing-masing sisinya. Warna biru muda dan putih mendominasi gedung sekolah, hanya satu bangunan yang mencolok dari warna dominan itu, mushola—yang terletak di samping kiri aula besar berbentuk pendopo. Kalau dari posisi kelas gua yang letaknya di sisi kanan gedung, musola itu tepat berada di samping kanan sepuluh meteranlah kalau dihitung-hitung.

Sekolah gua ini salah satu yang terbaik di Tangerang. Selain sederet fasilitas dan tenaga pengajar, prestasi siswanya patut dibanggakan. Dua kali berturut-turut juara umum Pekan Sains Nusantara. Paduan suara dan tim futsalnya terbaik juga se-Banten. Belum lagi prestasi dari cabang olah raga lainnya, juga Rohis, Pramuka, Paskibra, PMR, Film dan masih banyak lagi sederet prestasi lainnya. Hampir semua ekstra kurikuler menyumbang prestasi membanggakan. Tidak salah kemudian, untuk bisa bersekolah di sini kami harus ikuti tahap seleksi yang cukup ketat. Redy? Selain dia cukup cerdas, sebenarnya. Keberuntungannya benar-benar terbukti saat dinyatakan lolos seleksi. Enggak usah lu tanya gimana gua bisa diterima di sekolah ini. Di awal gua sudah bilang, kalau gua ini salah satu yang tercerdas. Tetap enggak percaya, kan? Yasudah.

Dari kelas gua musti ikuti koridor yang melewati lima kelas—termasuk kelas yang gua huni—dan ruang Tata Usaha (TU) supaya bisa sampai di ruang guru.Beton semen jadi tempat favorit murid di sini buat ngabisin waktu istirahat selain jajan di kantin atau baca buku di perpustakaan. Biasanya cewek-cewek sih, yang lebih banyak. Mereka sering nontonin yang laki-laki lagi olah raga di lapangan. Kadang, baik yang nonton atau yang olah raga enggak peduli panas matahari yang kadang terlalu nyorot.

Beberapa siswi melirik gua. Serius. Ada juga yang bisik-bisik. Tentu saja gua enggak denger. Ya iyalah ... namanya juga bisik-bisik. Mungkin seru kalik, ya, kalau punya kekuatan bisa dengar orang yang lagi bisik-bisik. Eh, tapi kekuatan kayak gitu sudah banyak orang yang punya. Ya, ibu-ibu, tuh. Yaudah, gua enggak jadi mau punya kekuatan itu.

Begitu sampai di ruang guru, gua mulai cari meja Pak Hemi, guru Pendidikan Kewarganegaraan gua. Cukup mudah ditemukan, sih. Soalnya gua lihat dia lagi duduk sambil baca sesuatu di ponselnya.

Sebelum gua tiba di tempat duduknya, Pak Hemi sudah bangkit berjalan ke arah gua. Kelihatannya dia terburu-buru. “Kamu taruh saja di meja saya,” katanya kemudian.

“Iya, Pak.” Enggak mau tahu juga urusan Pak Hemi, gua langsung saja bawa buku tugas ke mejanya. Lebih cepat lebih baik, karena perut gua harus segera diselamatkan. Ya, tujuan gua setelah ini tentu kantin.[]

Note: *Cerita bakal di-update tiap Senin dan Kamis

          * Terima kasih sudah berkunjung :)

#GrasindoFictionSweek

Babak Pertama | DUA