Dapur Ibu #Mikrohari

The Power Of Woman #MikroHari

Dapur Ibu #Mikrohari

Libur lebaran semua perantau pasti ingin pulang ke kampung halaman masing- masing. Aku pun memutuskan hal yang sama untuk pulang ke kampung halaman. Bertemu Ibu tanpa ayah yang sudah lama dipanggil Tuhan ketika ku berumur Empat Tahun. Aku ingat salah seorang tetangga ku yang mengelola uang dengan berjualan Gorengan di rumahnya. Pisang Goreng, Bakwan, dan lain-lain. Gorengan yang paling aku suka bakwan. Adonan tepung terigu dengan adonan sayuran wortel, kol dan lain-lain di goreng dengan minyak panas. Menjadikan gorengan bakwan yang krispy  dan enak dimulut.
Aku bertanya pada kakakku. Apakah ibu itu masih jualan. Ternyata ibu itu sudah tidak berjualan kembali karena harus mencari nakah keluar negri menjadi TKW. Meskipun dia sudah tidak jualan lagi ternyata ada tetangga lain yang mencoba usaha yang sama.
Seorang ibu muda yang sudah memiliki anak usia tujuh tahun. Dan sudah Lima tahun lamanya dia berjualan Gorengan dan Mie Soup yang ciri khas asal kota kelahiranku kota Medan. 
Tadinya hanya numpang mampang stainles dan kompor dengan beralaskan tanah dan itupun dilahan kosong milik pemerintah setempat.  Sekarang sudah dibangun Warung beralaskan lantai dan atap yang bisa terhindar dari panas maupun hujan. 
Aku datang ke warung ibu yang bernama Wini astuti. Aku mampir ke warung dan memesan Bakwan favorite aku.  Kata kakakku masakkannya jauh lebih enak dari pada ibu yang biasa jual. Aku penasaran untuk mencobanya. 
Aku pesan dan sambil menunggu matang bakwan yang sedang dalam penggorengan. 
" Kak Bakwannya 10 ribu aja ya." Pesanku ketika melihat bu wini sedang menyiapkan pesanan pembeli yang lain sudah lebih dulu. 
" Iya sebentar ya. Ini lagi nyiapan pesanan pembeli yang katannya mau pigi kerja katanya." Jawab bu wini dengan gaya bahasa khas anak Medan. Pigi itu Artinya Pergi. 
Sambil menunggu, aku mengajak ngobrol bu wini. 
" Kakak sudah berapa lama jualan gorengan?"Tanyaku. 
" Udah Lima Tahun. Sekarang Anak kakak udah tujuh tahun dek." Jawab bu wini. 
" Kak. Anaknya dah sekolah donk kak."
" Iya. Udah kelas dua SD dia dek." Jawab bu wini yang aku panggil kakak. Ciri khas di medan menyapa ibu muda dengan panggilan kakak sebenarnya bukan ibu muda saja,  yang belum nikah juga asalkan perempuan dipanggil kakak jika terlihat lebih tua dari kita. 
" Kak. Gorengannya jual berapa kak?"Tanyaku. 
" Dua ribu lima ratus rupiah tiga."Jawab Bu wini sambil ngemil gorengan godo - godo yang sudah dimasak sebelumnya. Kalau dimedan Gorengan godo - godo itu olahan tepung dicampur pisang diberi sedikit gula dan garam. Kemudian dibentuk bulat sedang dan digoreng sehingga ketika matang warnanya berubah kecoklatan tua.
" Oh ya kak. Lagi makan godo-godo ya."
" Iya. Laper juga dari tadi belum sarapan."
Aku melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
" Kak ga jualan Mie hun goreng pake bumbu kacang?" Tanyaku. 
" Ngga lah dek. Orang-orang kalau beli 3 ribuan dan pengen bumbu kacangnya dibanyakin, sementara kacang lagi mahal. Ga dapat untung. Paling kakak jual Mie soup. Ada mihun dan mie tiaw." Jelas kak Wini. 
" Oh,  berapa sebungkus kak?" Tanyaku. 
" Lima ribu rupiah." Jawab Wini. 
" Aku pesan dua bungkus deh kak." Pesanku. 
" Tunggu ya dek." Jawab wini sambil menyiapkan soup yang sudah matang sebelumnya kemudian dipanas kan kembali sebelum bihun dibungkus. 
" Mitha." Teriaknya memangil seorang anak kecil yang tidak lain adalah anaknya yang berumur tujuh tahun. 
" Mitha kamu bantu ibu dulu ya." Ucap Kak Wini ke anak perempuannya. 
" Iya buk. "
" Antar dulu ya gorengan ini ke rumah Kak Meymey orangnya dah mau pergi." Suruh Kak wini pada anaknya. Anaknya pun mengambil gorengan dan mengantarkan kerumah meymey. 
Anak perempuan kak Wini cantik putih seperti orang bule dan anak yang nurut pada ibunya.
" Oh ya kak. Bu Wiwi yang biasa jual gorengan kenapa ga jualan lagi ya. " Tanyaku. 
" Iya semenjak pulang dari Malaysia menjadi TKW dia sudah tidak jualan gorengan lagi." Jawab Wini. 
" Trus tinggalnya ibu wiwi dimana kak?"
" Masih tinggal disekitar sini dek. Dia kan udah lama di tinggal ama suami semenjak anak - anaknya masih kecil. Dan sekarang suaminya bu wiwi sudah sakit - sakitan tapi  bu wiwi dah ngga mau nerima suaminya yang dalam kondisi sakit." Cerita kak wini. 
" Lalu bapak itu sakit mereka ga ada yang tau gitu kak." tanyaku. 
" Suaminya ya sama istri keduanya. Ga mau lah ibu itu ngurus lagi kan dah ditinggal gitu aja lalu maen balik dalam kondisi sakit - sakitan."Jawab Wini. 

Aku pun berpikir juga tentang bu wini yang berjualan sendiri tanpa seorang pria yang menemaninya ataupun membantunya. Mungkin suaminya sedang bekerja dan kak wini jualan sendiri. Kak Wini pun menceritakan kenapa tidak ada seorang pria yang membantunya. 
 
Tak lama kemudian ada pembeli selain aku datang. Memesan 10 ribu gorengan. Dan pesanan ku pun matang. Tidak lama dari itu sudah ada lagi yang memesan gorengan buatan kak wini. 
Aku pun membawa pesanan yang sudah disiapkan oleh wini. 
Di perjalanan pulang. Aku melihat begitu kuatnya kak wini tanpa seorang suami yanh membantunya. Mengurus, menyekolahkan dan membesarkan anak sendiri. Suami yang diharapkan memberi nafkah pergi begitu saja meninggalkannya. Kak wini pun hidup menumpang dan tinggal dirumah orang tuanya sambil membesarkan anaknya. 
Seorang wanita yang terlihat lemah tapi sebenarnya wanita itu begitu kuat menghadapi kenyataan hidup ini. 
Aku pun tiba dirumah dengan membawa gorengan dan Mie soup ( mie yang dicampur dengan soup dan potongan ayam goreng ). Mie soup Medan ciri khas jajanan di medan. 
Tiba di rumah aku mencicipi Mie soup yang sudah lama aku ga pernah makan semenjak tinggal dibandung. Bakwan goreng yang terakhir aku makan ketika SMA di daerah rumahku kini aku mencicipi kembali olahan bu wini seorang ibu dari satu anak. Aku pun mendapat hikmah dari Bakwan dan Mie soup yang dibuat oleh bu wini. 
Aku tau. Apapun yang menjadi kesusahan dalam kehidupan mereka tapi mereka tetap terlihat bahagia tanpa sedikit pun penyesalan dari keputusan hidup yang harus mereka jalani. Aku percaya pasti akan ada sesuatu yang baik di balik kejadian semua. Melihat bu wini tanpa seorang suami yang harusnya menafkahi dia dan ananknya kini berjuang untuk menyekolahkan anak perempuannya. Bu wini dan bu wiwi ternyata dua perempuan yang berjuang demi anak. Aku memang belum menikah dan belum merasakan sebagai seorang ibu. Dari kisah hidup Bu wini dan bu wiwi menjadi bahan pembelajaran hidup kedepannya bagiku agar aku bisa menjadi perempuan yang kuat dan tetap bahagia apapun ujian yang terjadi. Warung yang sekaligus bisa menjadi dapur kedua bu Wini bisa menghasilkan rejeki untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya. Aku bangga melihat perjuangan mereka bukan masa lalunya. Dan itulah yang mereka pilih. 
Setiap orang memiliki masa lalu masing - masing tapi jangan biarkan masa lalu menghentikan langkahmu karena masa depan lah yang akan memberikan penilaian tentang arti hidup yang akan kita jalani. Jadi, biarkan masa lalu mu berlalu dan lihat lah masa depan sudah ada di depan mata. Hidupmu dirimu yang menentukan bukan orang lain dan pilihan ada ditanganmu. Lakukan lah segala sesuatu dengan hal - hal yang positif.