Tia & Rangga

Cerpen | Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Tia & Rangga

“Kapan pertama kali kamu merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama?” tanya seseorang kepadaku.

“Jatuh cinta pada pandangan petama? Hmm, sepertinya zaman SMP.” jawabku dengan wajah yang terseyum.

Hai, namaku Sintia Anggraeni. Biasa disapa Tia. Dan ini adalah cerita awal pertemuanku dengan seseorang yang dulu sangat asing. Awal mulanya disebuah koridor sekolah, pada saat itu karena aku datang terlalu pagi dan kelas masih kosong, aku berencana untuk pergi kearah kantin untuk mengisi perut. Dan dalam perjalanan menuju kantin, aku bertemu dengannya di koridor. Dia bersama temannya yang juga adalah teman sekelasku. Anton namanya. Jarak langkah kami semakin dekat, hingga pada akhirnya mata kami saling bertemu. Dan disitulah kami saling memandang. Dari kejauhan aku mendengar ia berkata “Siapa nama gadis tadi?”

Mata pelajaran kedua, jam pelajaran olahraga, semua murid pun bergegas ke lapangan. Selama pelajaran olahraga, aku menemukan sosoknya yang sedang berbicara dengan beberapa temannya yang berdiri di depan pintu kelas. Dan lagi-lagi mata kami saling bertemu.

Keesokan harinya, aku bertemu dengannya dikantin sekolah. Ia bersama dengan temannya. Dan lagi-lagi mata kami saling bertemu dan anehnya tidak saling menyapa. Mungkin karena kami tidak saling mengenal, apalagi aku tidak tahu siapa namanya. Hingga pada akhirnya, ada seseorang yang memanggil namanya. Rangga, itulah namanya. Disaat itulah aku mulai mencari tahu tentang sosok Rangga.

Kenaikan kelas dua, kelasku bersebelahan dengan kelas Rangga. Bertemu disebuah koridor tiap hari itu pasti karena kelas kami bersebelahan. Kadang, sebelum ia masuk ke kelasnya, aku tak sengaja melihat pandangan mata Rangga melirik kearah kelasku. Dan itu bukan pertama kalinya, tapi sering sekali.

Di semester genap, adalah pengalaman pertamaku ditembak oleh seseorang. Suatu ketika ada teman sekelas membuat suatu kejutan terhadapku. Namanya Rudi. Dia menarikku ke depan kelas, saat itu sedang jam istirahat. Aku yang tidak tahu apa-apa, hanya nurut saja.

“Tia, aku mau nyanyi sesuatu buat kamu.” seketika sorakan anak-anak yang berada dikelas begitu ramai bagaikan pemandu sorak. Mungkin sampai terdengar keluar kelas.

“Nyanyi apa?” tanyaku penasaran.

Rudi mulai menyiapkan gitarnya yang sedari tadi ia pegang. Dalam petikan gitar yang ia mainkan dan suaranya nyanyiannya yang begitu jernih. Ia menyanyikan lagu bila engkau dari Flanella. Hingga kutahu ini adalah lagu cinta untuk seseorang yang ia suka. Anak kelas pun pada bersorak kegirangan. Memancing kedatangan murid dari kelas sebelah yang merasa penasaran dengan keramaian yang dibuat oleh kelasku. Rudi pun mulai berhenti memainkan gitarnya. Dengan wajah malu-malu, ia mulai mengucapkan suatu kata.

“Tia, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?”

Pernyataan cinta dari Rudi membuat sorakan makin menggila. Banyak yang berteriak untuk terima. Aku yang baru pertama kali mengalami ini bingung untuk menjawabnya. Rudi adalah pria yang baik, pintar dan humoris. Tapi kenapa dia memilihku menjadi pacarnya? Apa yang ia sukai dari diriku yang biasa ini?

Saat aku ingin menjawabnya, ada sosok Rangga didekat pintu kelas. Dia hanya menatapku. Diwajahnya seperti sedang bertanya-tanya ada keramaian apa yang terjadi. Anton yang dulu pernah sekelas denganku dan sekarang sekelas dengan Rangga membisikkan ke kuping Rangga, terlihat wajah Rangga berubah dan dia pun pergi meninggalkan keramaian ini.

Aku yang melihat hal itu, langsung bertanya-tanya tentang ekspresi wajahnya yang berubah. Hingga lamunanku pun buyar oleh sentuhan tangan Rudi yang menepuk pundakku.

“Tia, kamu gak apa-apa? Kalau gak mau jawab sekarang juga gak apa-apa.”

“Engga, Rud. Aku gak apa-apa kok. Hanya saja kepalaku tadi sedikit pusing.”

“Kamu sakit? Mau kuantar ke UKS?”

“Gak apa-apa Rud, aku bisa sendiri.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Cin, temenin Tia gih ke UKS. Takut pingsan.” kata Rudi kepada Cindy yang sedari tadi berdiri disampingku.

“Iya.” sahut Cindy.

“Ayo, Tia kuanter.”

“Maaf ya Cin, ngerepotin.”

“Gak apa-apa Tia, santai aja.”

Aku yang sedang duduk terdiam di tempat tidur ruang UKS. Mulai terbayang kejadian yang sedang terjadi beberapa menit yang lalu. Rudi yang menyatakan perasaannya kepadaku didepan banyak orang, hingga ekspresi wajah Rangga yang tiba-tiba berubah seperti orang kecewa.

“Tia, ini kubawain minum.”

“Makasih ya Cin, kamu gak balik kekelas?”

“Engga ah, aku disini aja temenin kamu daripada balik kekelas.”

“Kenapa? Karena bentar lagi pelajaran mendongeng ya?”

“Hahaha, iya tahu aja kamu. Aku heran Pak Nando kalau mengajar pasti kaya orang mendongeng, bikin orang jadi ngantuk.”

“Iya, terlalu monoton ya?”

“Iya.”

“Tia, boleh aku tanya sesuatu?”

“Soal apa?”

“Tentang Rudi, kamu mau nerima dia?”

“Engga.”

“Terus, kenapa gak dijawab langsung?”

“Kalau langsung kujawab nanti dia tambah malu. Kamu gak lihat muka dia sudah memerah dari tadi?”

“Iya sih.”

“Terus, kapan kamu mau kasih tahu dia?”

“Nanti, saat pulang sekolah.”

“Ngomong-ngomong, kamu masih ada rasa sama dia?”

“Dia siapa?”

“Rangga.”

Aku pun terdiam saat Cindy menyebut nama Rangga. Cindy adalah teman sekelasku dari kelas satu sampai saat ini. Cindy adalah tempatku membagikan perasaan yang penuh tanda tanya soal Rangga.

“Kok diam?”

“Kalau soal rasa aku tidak tahu, tapi sosok Rangga hanya membuatku penasaran. Tentang tingkahnya, tentang tatapannya, tentang ekspresinya, semuanya.”

“Membuatku ingin mengenal dekat dengan sosok yang bernama Rangga.” tambahku.

“Kalau begitu mau aku kenali ke Rangga?”

“Eh? Engga, aku belum siap.”

“Loh kenapa? Selagi aku dan Rangga berada di ekskul basket yang sama kenapa engga?”

“Makasih Cin, tapi aku belum siap.”

“Terus kapan, selagi Rangga belum jadian sama orang kapan lagi?”

“Biar waktu yang menjawabnya Cin.”

“Kalau Rangga jadian sama orang lain, jangan nyesel loh.”

“Iya.”

Keesokkan harinya, Rudi tidak masuk sekolah. Kata Ical, dia sakit tapi menurutku sepertinya bukan sakit melainkan masih merasa malu karena di jam pulang sekolah kemarin aku menolak Rudi secara halus. Rudi berkata ia tidak apa-apa, tapi ekspresi wajah dan tubuhnya tidak bisa bohong.

Di sisi lain, aku juga jarang bertemu Rangga. Semenjak kejadian itu, aku mulai kehilangan sosok bayangan Rangga. Dia yang biasa melirik ke kelasku, kini tak ia lakukan lagi. Tiap berada di koridor yang sama, ia pun memutar arah seperti sedang menghindar dariku. Tiap pulang sekolah melewati jalan yang sama, kini tidak lagi. Seakan-akan sosok Rangga yang sering kulihat sudah mulai menghilang perlahan.

Hingga pada akhirnya, aku mendapat kabar bahwa Rangga jadian dengan kakak kelas bernama Amel. Amel adalah anggota cheerleader untuk tim olahraga basket.

“Tia, kamu udah dengar soal hubungan..”

“Iya, udah tahu.” Aku langsung memotong pembicaraan Cindy. Tanpa perlu menunggu ia selesai bicara, aku sudah tahu siapa orang yang ia maksud.

“Ih, main potong aja. Emang kamu tahu siapa yang aku maksud?”

“Tau.”

“Siapa?”

“Rangga kan?”

“Kok kamu tau duluan sih?”

“Kabar burung lebih cepat tersebar dibanding kamu Cin.”

“Ya maaf, aku bingung kasih tahunya ke kamu.”

“Emang, kapan mereka jadiannya?”

“2 minggu setelah kejadian kamu ditembak Rudi.”

“Hah? Lalu, kapan mereka pdkt –nya?”

“Mana kutahu, tahu-tahu mereka deket, lalu ada kabar mereka jadian.”

“Saat dikonfirmasi ke kak Amel ternyata memang benar mereka udah jadian.” tambahnya.

“Gitu ya?”

“Nyesel gak sekarang?”

“Biasa aja sih.”

“Halah, sok-sok biasa. Padahal dalam hati sedih tuh.”

“Aku mau fokus sekolah Cin, gak mau fokus pacar-pacaran.”

Walau begitu entah kenapa ada perasaan di hati yang terasa tidak enak.

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu. Hingga tak terasa sudah menginjak kelas tiga. Dan lucunya kelasku bersebelahan lagi dengan kelas Rangga. Tiap berpapasan di koridor kami saling menyibukkan diri dengan handphone yang kami pegang masing-masing atau pura-pura mengobrol dengan teman. Bahkan saat masih duduk di kelas dua, ku pernah mendapati ia sedang mengobrol dengan Amel di koridor, Rangga yang menyadari keberadaanku langsung melepas tangan Amel lalu berlalu ke kelasnya, seakan-akan ia tak mau aku melihat kemesraan mereka.

“Tia, setelah lulus nanti, mau masuk SMA mana?” tanya Cindy.

“Aku mau masuk SMA di daerah Jakarta.”

“Loh, kok jauh banget. Yang deket sini memangnya kenapa?”

“Mau uji nyali di kota orang.”

“Hmm.”

“Kamu gimana Cin?”

“Aku? Rencana mau masuk di sekolah abangku.”

“SMA itu?”

“Iya.”

“Kamu yakin? Itu kan SMA favorit di kota kita.”

“Justru itu, bagaimanapun caranya aku harus masuk di SMA itu agar orangtuaku banggain aku juga. Kamu tahu sendiri orangtuaku suka banding-bandingin aku dengan kakakku.”

“Iya aku paham. Aku turut berduka untuk hidupmu yang keras Cin.”

“Iya, ya makasih dah.”

“Hahaha.”

“Kamu sudah moveon dari Rangga?”

“Udah.”

“Masih ada rasa sama Rangga?”

“Engga.”

“Hebat.”

“Nyatanya emang gak ada rasa kok.”

“Gak ada rasa tapi kok baper mulu.”

“Itu bukan baper, tapi lagi bingung.”

“Alasan.”

Dalam 3 tahun sekolah disini, aku mulai merasa bahwa aku harus mencoba untuk memberanikan diri dalam keputusan yang kuambil. Jika waktu itu aku punya niatan untuk berkenalan dengan Rangga, mungkin kami bisa saling mengenal satu sama lain. Jika saat itu Rudi tidak menyatakan perasaannya padaku didepan kelas, mungkin sikap Rangga akan seperti biasanya yang membuatku senyum-senyum sendiri. Jika waktu itu aku tidak bertemu dengan Rangga di koridor sekolah, mungkin tidak ada rasa penasaran dengan sosok yang bernama Rangga.

Rangga yang sosoknya dulu sangat asing bagiku. Sedikit demi sedikit membuatku merasa ingin tahu tentangnya. Rangga yang selalu menjadi tim inti di tim basketnya. Rangga yang selalu pintar di semua bidang. Rangga yang sosoknya terlihat sempurna namun misterius. Membuatku merasakan rasa kagum terhadap dirinya, yang menurut Cindy itu dinamakan cinta yang datang secara perlahan. Tapi bagiku, Rangga adalah sosok misterius yang membuat diri ini senyum-senyum gak jelas.

Hari kelulusan sekolah telah tiba, ini adalah hari terakhir kami bersama teman-teman yang selama 3 tahun mengalami susah senang bersama. Kebersamaan, kekompakan, kekocakan yang pernah dibuat akan menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.

Acara hari ini berlangsung sangat meriah, kebaya-kebaya cantik yang dikenakan para wanita. Jas hitam yang dikenakan para pria yang terlihat gagah dan keren. Namun, aku tak melihat sosoknya. Sosok yang terus aku cari-cari keberadaannya.

“Tia.” tiba-tiba seseorang memanggilku yang ternyata adalah Cindy.

“Hei.”

“Kamu mau kemana?”

“Mau ke toilet. Kenapa? Mau ikut?”

“Oh, engga. Nanti datang ke gedung basket ya.”

“Hah, ngapain?”

“Kita foto-foto disana.”

“Foto-foto kok di gedung basket, di lapangan aja Cin. Rame banyak anak-anak yang ngumpul.”

“Justru karena rame, makanya mau di gedung aja biar leluasa.”

“Ya udah terserah kamu aja deh Cin.”

“Hehehe, inget langsung ke gedung basket. Kutunggu loh.”

“Iya.”

Dalam perjalanan menuju gedung basket, aku berpapasan dengan Rudi. Semenjak kejadian itu aku dan Rudi menjadi canggung tiap bertemu, menyapa saja hanya sebatas lewat, tidak ada hal kelucuan yang dulu pernah Rudi lakukan padaku.

“Oh, hei Tia.”

“Hei Rud.”

“Sendirian aja?” tanya Rudi.

“Iya.”

“Kamu nanti mau tampil?” tanyaku.

“Iya.”

“Oh, kalau gitu, semoga sukses ya.”

“Iya, makasih Tia.” Lalu kamipun pergi berlalu.

Sampai di depan pintu masuk gedung basket. Sepi tidak ada anak-anak yang datang kemari. Aku mencoba masuk kedalam, mencoba mencari sosok Cindy. Tapi yang kulihat malah seseorang yang sedang bermain basket sendirian. Aku masih sibuk mencari disekitar hingga suara permainan basket orang itu berhenti.

Pria itu berdiri mematung sambil memegang bola basket di tangannya. Dengan mataku yang sedikit minus, aku mencoba memfokuskan sudut pandanganku hingga aku menyadari bahwa sosok yang berdiri dihadapanku itu ialah Rangga. Aku terkejut, tidak bisa berkata-kata. Sosoknya yang sedari tadi kucari ternyata ada disini. Bermain basket sendirian, kulihat ia menanggalkan jasnya di dekat tiang ring basket.

Hal yang kupikirkan pada saat itu adalah segera keluar dari ruangan ini. Hingga pada akhirnya ada suara yang memanggil namaku.

“Tia.”

Sosok perempuan yang kucari sedang berdiri di depan pintu masuk. Aku pun bergegas menghampiri Cindy. Dan berkata bahwa ada Rangga disini. Tapi yang kulihat ekspresi Cindy malah biasa saja dan anehnya dia malah menarik tanganku menuju ke tempat Rangga.

“Cin, mau ngapain sih? Gila ya kamu.”

“Udah diem aja.”

“Cinnnn..”

Langkah kami berhenti di depan Rangga. Kulihat Rangga masih memegang bola basketnya sambil melihat kearahku. Aku yang menyadari tatapan matanya hanya bisa menunduk dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Cindy saat ini.

“Udah kutepatin omonganku, sekarang kamu harus tepatin omongan kamu.” ucap Cindy.

“Hah? Tepatin? Apa maksud dari ucapan Cindy?” batinku.

“ Iya, tenang aja.”

“Oke, nah Tia, kamu kutinggal bentar disini sama Rangga ya.” ucap Cindy dengan tersenyum. Di raut wajahnya seperti tertulis semoga berhasil. Aku pun menarik tangan Cindy mencoba untuk tidak meninggalkan aku sendirian disini bersama Rangga.

“Loh, loh Cin tung..”

Tiba-tiba saja Rangga memegang tanganku mencoba untuk menahanku disini.

“Kamu mau kemana?” tanyanya.

Aku pun terdiam. “Disini aja, jangan kemana-mana.” ucapnya.

“Iya.” Aku hanya bisa menunduk malu dan kesal kenapa Cindy tega melakukan ini padaku. Meninggalkan diriku ini berduaan dengan Rangga disini.

“Kamu, gak merasa nyaman ya?”

“Eh? Engga kok, bukan gitu.”

“Kalau kamu gak merasa nyaman, kita bisa pergi ke tempat kumpul anak kelas lain.”

Aku pun mulai berpikir, jika kami pergi kesana, aku tidak akan ada kesempatan untuk berbicara dengan Rangga.

“Disini aja.” kataku.

“Oke.” Rangga pun mengangguk dan kemudian hening sesaat.

“Ngomong-ngomong, kamu dan Cindy rencanain apa?” tanyaku mencoba mencairkan suasana.

“Ah itu..” Rangga terdiam, berusaha berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat. “Cindy bilang, kamu ingin bertemu denganku?”

“Hah? Cindy ngomong gitu?”

“Iya.”

Aku yang terkejut dengan yang diucapkan Rangga, membuatku merasa kecewa dengan Cindy yang telah berbohong jika aku ingin bertemu dengan Rangga. “Engga, engga. Aku gak pernah ngomong begitu.”

“Oh ya?”

“Wah kalau aku ketemu Cindy nanti akan kuceramahi dia.”

“Hahaha.” Tiba-tiba saja Rangga tertawa. Tertawanya begitu lepas membuatku ikutan tersenyum kecil melihatnya.

“Maaf ya Tia, jangan marah sama Cindy. Aku yang pengen ketemu sama kamu kok.”

“Justru aku berterimakasih sama Cindy karena bisa ngobrol berdua sama kamu.” tambahnya.

“Maksud kamu?”

“Dari dulu, aku ingin bisa kenal sama kamu, ingin bicara langsung sama kamu. Tapi, aku gak berani.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya keberanian seperti Rudi.”

“Kok bawa-bawa nama Rudi?”

“Aku iri sama Rudi, dia bisa menyatakan perasaannya dihadapan banyak orang. Sedangkan aku, aku hanya bisa mencari sosok hadirmu saja.”

“Pada akhirnya kamu jadian dengan kak Amel.” Aku segera memotong pembicaraan Rangga, karena jujur saja ucapan dia memang membuatku tersentuh tapi juga kecewa karena pada akhirnya dia memilih kak Amel.

“Aku udah putus dengan kak Amel.”

“Kenapa?”

“Karena gak ada kecocokan.”

“Kalau gak cocok, kenapa bisa jadian? Aneh.” ucapku dalam batin.

“Lalu, sekarang siapa pacar kamu?”

“Engga ada, tapi aku sedang mencoba dekat dengan seseorang.” Saat dia berkata seperti itu entah kenapa aku langsung kecewa. Putus dari kak Amel yang membuatku senang dan tidak lama dia bilang sedang mencoba dekat dengan seseorang yang membuatku langsung lesu. Sebetulnya apa yang sedang kuharapkan?

Tiba-tiba suasana mulai hening kembali. Hingga pada akhirnya dia mengatakan hal yang membuatku terkejut sekaligus bahagia.

“Aku suka kamu. Aku ingin kamu jadi pacar aku, Tia.” ucapan yang selama ini kudengar dari oranglain kepadaku, entah kenapa terasa berbeda jika Rangga yang mengucapkannya. Aku pun tersenyum bahagia.