Friendzone

Friendzone #SweekFanFicAnime

Friendzone

"Selamat pagi Paman Fugaku, Bibi Mikoto, Kak Itachi, Kak Yugao, Itaru-kun, dan Itari-chan."


Hinata mengabsen serta mencium pipi seluruh anggota keluarga Uchiha satu persatu. Tunggu! Sepertinya kurang satu?


"Sasuke belum bangun juga ya, Bi?" tanya Hinata pada Mikoto seraya mendudukkan dirinya di samping Sang Nyonya Uchiha.


Mikoto menggeleng pelan sebagai jawaban. "Ngomong-ngomong, kau sudah sarapan, Sayang?" tanya Mikoto balik.


"Sudah, Bi. Makanya aku pagi-pagi ke sini. Hari ini ada pertandingan sepak bola di kampus. Tapi, aku yakin pasti si bodoh itu melupakannya," gerutu Hinata. "Ya ampun... bagaimana bisa dia melupakannya sementara dia itu kapten timnya?" Hinata masih mengomel.


"Sebaiknya kau bangunkan saja kekasihmu itu, Hinata-chan!" usul Itachi.


Mata Hinata mendelik menatap putra sulung Uchiha itu. "Kekasih apanya? Kakak ini sembarangan saja kalau bicara," protes Hinata tak suka.


"Sembarangan apanya? Kalian berdua ’kan cocok sekali. Benar tidak, Bu?" Itachi masih terus menggodanya. Mikoto hanya mengangguk seraya menahan kikikannya.


"Bercanda kakak tak lucu." Hinata memasang wajah cemberutnya.


"Siapa yang bercanda? Aku serius, loh." Itachi menaik turunkan kedua alisnya.


"Cih... daripada aku dengan si bodoh itu, lebih baik aku melajang seumur hidup. Atau menunggu Itaru sampai dewasa. Benar tidak, Itaru-kun?"


Itachi tergelak mendengar ucapan Hinata. "Hati-hati dengan ucapanmu! Kalau malaikat lewat dan mencatat omonganmu, habis kau!"


"Kakak mendo’akanku?" Hinata menggembungkan pipinya.


Itachi mengangkat kedua bahunya. "Aku ’kan hanya memberitahumu saja," ujarnya.


"Lagian kenapa kau tidak mau dengan Sasuke, Hinata-chan? Dia itu ’kan tampan. Gadis-gadis lain saja berebut untuk menjadi kekasihnya." Yugao masuk dalam percakapan.


"Kak Yugao seperti tidak tahu bagaimana kelakuan Sasuke," balas Hinata. "Para gadis itu belum tahu saja bagaimana belangnya. Makanya mereka berebut begitu," lanjutnya. "Kalau aku sih no, ya!"


"Siapa juga yang mau denganmu? Seperti tidak ada perempuan lain saja," cibir Sasuke yang muncul tiba-tiba di ruang makan. "Pagi, Bu!" sapa Sasuke seraya mengecup pipi ibunya. Tak lupa dikecupnya juga pipi Hinata kemudian duduk di sampingnya.


"Kau tidak sikat gigi, ya?" tanya Hinata.


"Kok tahu?" tanya balik Sasuke.


"Yaaakk... Uchiha Sasuke!! Kau jorok sekali ih, bau nih," protes Hinata seraya mengusap-usap pipinya jijik.


"Aku lupa. Baru ingat pas di tangga tadi, dan aku malas kalau harus balik lagi," ujar Sasuke santai.


"Aku tidak mau tahu, cepat sikat gigi dulu sana!" omel Hinata.


"Ya ampun, Hinata! Tidak sikat gigi sekali tak akan membuat ketampananku luntur."


"Narsis sekali. Cepat Sasuke! Sebentar lagi pertandingan akan dimulai."


"Kalau aku sikat gigi dulu, kita malah akan terlambat."


"Kau sikat gigi, aku siapkan sarapanmu. Sarapan di jalan saja. Cepatlah!"


Hinata menarik tangan Sasuke kemudian mendorongnya agar pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi.


"Nah, lihat sendiri ’kan? Itu salah satunya," ujar Hinata seraya beranjak ke dapur untuk mengambil kotak makan.


"Tapi mereka benar-benar cocok," bisik Yugao saat Hinata berada di dapur.


"Ibu juga setuju. Semoga saja mereka benar-benar bisa berjodoh," harap Mikoto. "Bagaimana menurutmu, Fugaku?"


"Aku sih terserah mereka saja," ujar Fugaku santai.


🌈🌈🌈



Hyuuga dan Uchiha. Dua keluarga yang sudah menjalin persahabatan sejak dari jaman leluhur mereka hingga kini. Anak cucu mereka bersahabat baik termasuk Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke. Mereka bersahabat bahkan sejak masih berada dalam kandungan.


Bagaimana tidak? Selain karena keluarga mereka yang bersahabat dekat, mereka pun bertetangga. Rumah keluarga Hinata berada persis di samping rumah Sasuke dan keluarganya. Hampir setiap hari ibu Sasuke bergaul dengan ibu Hinata.


Hampir seumur hidup mereka habiskan bersama. Hinata dan kakaknya, Hyuuga Neji, dulu sering dititipkan di rumah keluarga Uchiha saat kedua orang tuanya melakukan perjalanan bisnis, baik ke luar kota atau pun ke luar negeri, dan begitu pun sebaliknya.


Hinata dan Sasuke kecil selalu melakukan segala hal bersama. Mandi dan tidur bersama pun tak jarang mereka lakukan. Tapi, untuk mandi bersama, mereka hanya melakukannya sampai usia mereka 8 tahun saja. Kalau tidur bersama, mereka masih sering kok melakukannya. Eits, jangan berpikir negatif dulu! Karena mereka benar-benar hanya tidur bersama.


Meski selalu bersama, tapi, jangan dikira mereka akur, bahkan sebaliknya. Hampir setiap hari selalu saja ada keributan yang mereka timbulkan. Entah itu di rumah ataupun di tempat mereka menimba ilmu, bahkan disetiap ada kesempatan, dimana pun mereka berada. Namun, entah kenapa mereka kembali dan kembali bersama. Tak bisa dipisahkan. Seperti kembar siam saja.


Teman-teman mereka, tak ada satu pun yang tak tahu tentang persahabatan keduanya. Banyak yang heran, dan tak sedikit yang iri bahkan cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


Tapi, jika ada yang bertanya, ’kenapa tidak jadian saja?’ Maka, mereka akan dengan kompak menjawab,


"Seperti tidak ada perempuan lain saja." ---Sasuke.


"Meski lelaki di dunia ini tinggal dia satu-satunya, aku tak akan mau menikah dengannya." ---Hinata.


Tapi oh tapi, kedua manusia beda gender itu tetap saja nemplok satu sama lain. Benar-benar tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.


🌈🌈🌈




"Kau terlambat, Teme!" Si blonde yang bernama Uzumaki Naruto, salah satu sahabat mereka melayangkan protes.




"Dia yang membuatku terlambat." Sasuke menunjuk ke arah Hinata dengan dagunya.




"Kau bilang apa? Enak saja gara-gara aku. Kau sendiri yang terlambat bangun malah menyalahkan orang lain," protes Hinata tak terima.




"Sudah hentikan! Kalau diteruskan aku yakin tidak akan selesai bahkan sampai pertandingan ini berakhir." Shikamaru segera memotong sebelum terjadi perdebatan. Yang lain mengangguk setuju.




"Baiklah, ayo semua berkumpul! Kita akan mendengar pengarahan dulu dari Guy sensei," ujar Sasuke memerintahkan timnya untuk segera berkumpul. "Gendut, kau jaga barang-barangku. Awas kalau ada yang hilang, ya!" pinta Sasuke, yang lebih mirip perintah, pada Hinata.




"Sialan. Awas saja si bodoh itu!" omel Hinata seraya membawa barang-barang Sasuke dengan wajah tak rela.




"Sudahlah, Hinata! Lebih baik kita duduk di sana saja, yang lain juga sudah berkumpul," ajak Shion, salah satu sahabat, sekaligus sepupunya yang juga merupakan kekasih Naruto. Mereka kemudian berjalan menuju teman-teman wanita yang lain.




🌈🌈🌈




Jangan berpikir tentang Hinata yang tinggi semampai dengan kaki jenjangnya. Apalagi sampai membandingkannya dengan para angel Victoria’s Secret. Hyuuga Hinata disini tidak seperti itu. Dia memang cantik. Cantik sekali malah. Tapi, body-nya termasuk kategori berisi. Catat ya, BERISI!! Bukan gendut seperti yang Sasuke bilang tadi. Dia terlalu berlebihan.




Meski Hinata tidak setinggi Shion, sepupunya. Tidak juga seramping Sakura, atau memiliki kaki jenjang seperti Ino, tapi body-nya tuh ngegemesin banget. Enak buat dipeluk atau diuyel-uyel. Empuk kalau kata Sasuke sih. Dia aja doyan banget meluk-meluk Hinata kayak guling.




Tapi, jangan remehkan Hinata dan kebuntalannya. Dengan wajahnya yang diatas rata-rata, Hinata bisa membuat banyak lelaki terpesona. Apalagi jika sudah melihat senyum manisnya. Mereka semua pasti lupa dengan body-nya. Lagipula, meskipun Hinata paling pendek dan paling berisi diantara teman-teman wanitanya, tapi dia bukan tipe cewek yang bakal malu-maluin kalau dibawa ke kondangan. Selena Gomez mah lewaaatt.




Sayang (ada sayangnya nih), Hinata itu rada-rada tomboy. Mainannya saja manjat-manjat pohon mangga yang ada di halaman belakang rumah keluarga Uchiha, atau pohon apel di halaman belakang rumahnya. Tentu saja dengan sahabat raven-nya.




Nah, Sasuke sendiri, body-nya tinggi banget kayak menara sutet. Hinata aja cuma sebatas dadanya dia, jadi kalau lagi jalan berdua dengan Hinata, udah kayak telunjuk sama jempol aja mereka. Kalau tampang, jelas wajahnya paling cakep se-jagad fanfic *eh. Penggemarnya saja ngalah-ngalahin selebritis. Jadi, bisa bayangin sendiri lah ya, gimana cakepnya si Sasu-Sasu itu.




Oke, cukup sekian penjelasannya. Kita lihat lagi bagaimana kelanjutan cerita mereka.




🌈🌈🌈




Pertandingan sepak bola dalam rangka olimpiade musim panas antar universitas se-Negara Api baru saja berakhir 10 menit lalu, yang tentu saja dimenangkan oleh Universitas Konoha atas lawannya Universitas Kiri, dengan skor 3-1. Sasuke, Naruto, dan Kiba, masing-masing menyumbangkan 1 poin ke gawang lawan.




Para punggawa Universitas Konoha kini tengah beristirahat disisi lapangan. Mereka masih terlihat lelah dengan napas yang terengah-engah. Beberapa gadis, yang kebanyakan penggemar Sasuke langsung mengerubungi mereka. Menawarkan minuman, makanan, bahkan handuk hanya untuk sekedar mengelap keringatnya.




"Ck, mana si gendut itu? Kenapa dia belum kesini?" gerutu Sasuke seraya mengelap keringatnya dengan handuk yang diberikan oleh salah satu penggemarnya.




"Kau mencari Hinata?" tanya Sakura, sang manager tim.




"Hn. Bukannya tadi bersama kalian? Kenapa tidak kesini?" Sasuke bertanya balik.




"Dia nyangkut di dekat penonton dari Universitas Suna. Katanya sih ada temannya," Ino menimpali.




"Temannya siapa?" Sasuke mengerutkan keningnya.




"Tuh, sepertinya mereka sedang asyik mengobrol," tunjuk Ino pada seorang gadis yang tengah mengobrol ria dengan seorang pemuda bersurai merah.




Sasuke mengikuti arah yang ditunjukkan Ino. Matanya terbelalak seketika saat melihat siapa orang yang tengah berbicara dengan sahabat buntalnya.




"Sialan! Apa-apaan mereka? Sejak kapan setan merah itu ada disini?" omel Sasuke entah pada siapa. Sontak semua temannya kini mengikuti arah pandangan Sasuke. Mereka juga penasaran siapa lelaki yang tengah berbicara dengan Hinata.




Shion menyeringai setan melihatnya, kemudian berbisik namun bukan bisikan pelan apalagi lirih, tapi bisikkan yang bisa didengar oleh mereka yang ada disekelilingnya. "Sepertinya akan terjadi perang ninja kelima nih, ne Sasuke?" ujarnya.




"Awas saja dia!"




Sasuke bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Hinata. Tak dia hiraukan teriakan teman-temannya yang memanggilnya.




"Memangnya siapa yang bersama Hinata?" tanya Kiba penasaran. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain, kecuali Shion tentu saja, yang sudah tahu siapa lelaki itu.




"Dia kekasih Hinata," jawab Shion dengan tampang watados dan menahan tawanya.




"Heee?" pekik teman-temannya, kaget berjamaah.




"Jangan bercanda, Shion! Hinata punya kekasih?" tanya Ino.




"Memangnya boleh sama Sasuke?" Sakura kepo.




"Ya ampun, Sasuke dan Hinata itu kan cuma bersahabat," jawab Shion seadanya.




"Persahabatan yang tidak wajar," timpal Sai mengomentari.




"Tidak wajar bagaimana?" Naruto mengeluarkan suaranya. Teman-temannya menatap dia malas.




"Kau memang benar-benar tidak peka, Naruto." Sakura menggelengkan kepalanya.




"Aku tidak mengerti." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal.




"Ya Tuhan, berilah kesabaran pada hamba-Mu dalam menghadapi kekasih hamba yang bodoh ini," do’a Shion yang sontak membuat teman-temannya tertawa puas.




"Kau jahat sekali, Sayang," ujar Naruto merajuk.




"Habisnya, kau ini benar-benar tidak peka sama sekali. Aku heran kenapa aku bisa jatuh cinta padamu." Shion menggelengkan kepalanya.




"Sepertinya dulu kau sedang katarak waktu menerimanya, Shion," oceh Ino.




"Atau otakmu sedang bergeser," Sakura menimpali.




"Bwuahahahahaha ...."




Kali ini tawa teman-temannya menggema. Membuat mereka kini menjadi pusat perhatian.




"Aku kan tidak mengerti," ujar Naruto dengan wajah cemberut.




"Mendokusei kau ini, Naruto." Shikamaru yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun gemas sendiri. "Sasuke itu menyukai Hinata. Tidak. Kurasa dia mencintainya, dan begitu pun sebaliknya," lanjutnya.




"Bagaimana bisa?" tanya Naruto bingung.




"Mereka hanya tak menyadarinya, karena sudah terlalu nyaman dengan ’friendzone’ mereka. Sekarang coba kau perhatikan! Pernah tidak baik Sasuke atau Hinata dekat dengan lawan jenisnya?" tanya Shion yang membuat kepala Naruto menggeleng. "Yeah, kecuali yang sudah mereka kenal dekat sebelumnya," lanjutnya lagi.




"Kemana-mana mereka selalu berdua. Melakukan segalanya berdua. Jika ada lawan jenis yang mendekati Hinata, Sasuke akan dengan segera menyingkirkannya. Begitu juga sebaliknya. Jika ada gadis yang mendekati Sasuke, Hinata akan melakukan hal yang sama. Kau pikir ada persahabatan macam itu?" tanya Shion lagi seraya menjelaskan.




"Lalu lelaki itu? Kau bilang dia kekasih Hinata?" tanya Ino masih penasaran. Jiwa penggosipnya muncul sudah. Teman-temannya pun tak kalah penasaran. Mereka juga masih mengamati Sasuke yang semakin mendekat ke arah Hinata dan seorang pria berambut merah yang kini tengah tertawa-tawa.




"Sebenarnya, dulu mereka bersahabat. Bertiga. Sasuke, Hinata, dan Gaara," jelas Shion.




"Jadi namanya Gaara?" potong Sakura.




"Jangan memotong, Sakura! Biarkan Shion menjelaskan, aku penasaran," ujar Ino kesal. "Lanjutkan, Shion!" titah Ino bossy.




"Seperti yang kalian tahu, Sasuke dan Hinata itu sudah bersahabat bahkan sejak masih dalam kandungan," mulai Shion lebay. "Nah, waktu mereka kelas 4 SD, keluarga Gaara pindah ke Konoha, dan rumahnya persis di seberang rumah Hinata dan Sasuke. Hinata sih senang-senang saja dapat teman baru, tapi Sasuke tidak. Apalagi, sejak kedatangan Gaara, perhatian Hinata jadi terbagi," Shion mengambil napas sejenak.




"Entah bagaimana cerita pastinya, tapi setelah itu Sasuke dan Gaara selalu saja bersaing untuk mendapat perhatian Hinata. Saat mereka menginjak bangku SMU, Gaara harus kembali pindah ke Suna mengikuti keluarganya. Sebelum ke Suna, Gaara menyatakan perasaannya pada Hinata yang tentu saja ditentang mati-matian oleh Sasuke. Sasuke marah dan mendiamkan Hinata selama berminggu-minggu," lanjut Shion.




"Terus Hinata terima?" tanya Ino.




"Tentu saja tidak," jawab Shion.




"Tadi kau bilang Gaara kekasih Hinata?" protes Sakura.




"Aku hanya bercanda. Hehehe ...." cengir Shion. "Dulu, sepupuku itu sedang tomboy-tomboynya. Mana mengerti dia tentang cinta. Kalian juga tahu sendiri kan bagaimana dia semasa SMU dulu?" lanjutnya. Teman-temannya pun menganggukkan kepala serempak.




Sementara itu, ditempat lainnya...




"Gendut, kau lama sekali. Aku menunggumu dari tadi," ujar Sasuke cuek.




"Hoo... kau masih manja rupanya," balas Gaara dengan seringai mengejeknya.




"Bukan urusanmu. Lagian sedang apa kau disini? Seperti tidak ada kerjaan saja," balas Sasuke.




"Tidak ada kerjaan katamu? Aku disini mengikuti olimpiade musim panas. Aku ini kapten kesebelasan Universitas Suna," jelas Gaara tak mau kalah.




"Cih... seperti kau bisa bermain bola saja," cibir Sasuke.




"Kau meremehkanku, heh?"




Sasuke mengangkat kedua bahunya acuh. "Setahuku, kau itu hanya anak cengeng yang suka membawa-bawa boneka teddy bear kemana-mana," ejek Sasuke membuat Gaara geram.




"Kauuu ...."




"Sudah... sudah... kenapa kalian jadi bertengkar? Aku heran dengan kalian berdua, setiap kali bertemu selalu saja ribut," Hinata melerai. "Kau juga Sasuke, bukankah kita bertiga sudah lama tidak bertemu? Apa kau tak rindu bermain bersama dengan Gaara?"




"Aku pasti sudah gila jika aku merindukannya," gerutu Sasuke.




"Kau pikir aku tidak?" Gaara tak mau kalah.




"Haahh ...." Hinata mendesah pasrah. Dia sendiri pun tak mengerti kenapa persahabatan mereka jadi seperti ini. "Sudahlah, aku malas! Oh iya Gaara, pertandinganmu lusa, kan?" tanya Hinata yang dibalas anggukkan oleh Gaara.




"Kau nonton, kan?" Gaara bertanya balik.




"Tentu saja," jawab Hinata riang.




"Kenapa kau mau menontonnya? Dia itu musuh kita," protes Sasuke.




"Dia itu sahabat kita, Sasuke. Hanya kampusnya saja yang berbeda," ujar Hinata. Gaara tersenyum mengejek ke arah Sasuke.




"Tetap saja menyebalkan," gerutuan Sasuke terdengar lagi.




"Kau ini benar-benar ya." Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nanti malam kau main ke rumah ya! Sudah lama kan kau tidak main," ajak Hinata.




"Kenapa kau mengundangnya ke rumahmu?" protes Sasuke lagi.




"Memangnya kenapa? Gaara juga kan sahabatku."




"Tapi aku tidak suka, gendut."




"Sekali lagi kau bilang aku gendut, ku hajar kau!"




Sasuke langsung kicep. "Lagian ya, bukan urusanku kau suka atau tidak. Kau saja hampir setiap hari main ke rumahku," lanjut Hinata kesal.




"Sudahlah! Ayo cepat pergi. Aku malas bertemu setan merah ini," ujar Sasuke seraya menyeret tangan Hinata menjauh.




"Kau pikir aku suka melihat wajah menyebalkanmu itu?"




"Aduh, Sasuke... jangan tarik-tarik!" protes Hinata namun Sasuke tak menggubrisnya. Kemudian dia menoleh kembali ke arah Gaara. "Jangan lupa nanti malam ya, Gaara!" teriak Hinata yang dibalas acungan jempol oleh pemuda berambut merah itu.




"Kau benar-benar mengundangnya ke rumahmu?" tanya Sasuke.




"Kenapa tidak? Dia juga sahabatku," jawab Hinata. Kini mereka berdua tengah menjadi perhatian teman-temannya.




"Sahabat apa? Pengganggu sih iya." 




"Kau ini kenapa, sih? Tiap kali bertemu dengan Gaara selalu seperti ini. Bukankah dulu kita selalu bermain bersama?"




"Bermain bersama apanya? Kita yang bermain bersama, dan dia menjadi pengganggunya," protes Sasuke. Hinata memutar matanya jengah.




"Sudahlah, aku mau pulang saja. Aku malas berdebat denganmu. Lebih baik aku bersiap untuk makan malam bersama Gaara," ujar Hinata kemudian.




"Kau mengundangnya tapi tidak mengundangku?" Sasuke menatap Hinata tak percaya.




"Tak ku undang pun kau pasti datang. Kerjaanmu setiap malam ’kan seperti itu," oceh Hinata. "Nih... bawa sendiri barang-barangmu!" Hinata melemparkan barang-barang Sasuke yang tadi dibawanya. "Aku pulang ya, teman-teman!" pamit Hinata pada teman-temannya yang masih melongo.




"Tunggu aku, gendut!" Sasuke berlari menyusul Hinata yang sudah berjalan terlebih dulu.




"Hey, Sasuke, Hinata! Kalian tak ikut makan bersama?" teriak Naruto setelah sadar Hinata dan Sasuke yang mulai menjauh.




"See?" tanya Shion kemudian.




"Aku jadi gemas sendiri," komentar Sakura.




"Bagaimana kalau kita jodohkan saja? Kita buat agar mereka berdua menyadari perasaan mereka," usul Ino.




"Caranya?" tanya Naruto.




"Bagaimana jika minta bantuan Gaara?" usul Ino lagi.




"Memangnya dia mau?" giliran Sai bertanya.




"Kita kan belum mencobanya," Ino kembali menyahut. Teman-temannya kini tampak berpikir.




"Kalau mereka tetap mempertahankan friendzone mereka bagaimana?" Kiba membuka suara.




"Berarti mereka tidak berjodoh," Shikamaru menimpali.




"Baiklah, sudah diputuskan. Kita akan buat rencana. Kau, Shion—" tunjuk Ino pada kekasih Naruto. "—tugasmu bicara pada Gaara, karena hanya kau yang mengenalnya," ujar Ino memberi perintah.




"Lalu rencana selanjutnya?" tanya Naruto kembali.




"Rencana selanjutnya—" Ino menjeda, kemudian matanya melirik Shikamaru. "—rencana selanjutnya, kita tanyakan pada Shikamaru bagaimana rencana selanjutnya. Hehehehe...."




"Huuuu...." teman-temannya serentak bersorak.




"Kupikir kau sudah punya rencana," Kiba mendengkus.




"’Kan Shikamaru yang paling jago mengatur strategi." Ino terkekeh.




"Mendokusei. Ujung-ujungnya selalu aku yang repot," protes Shikamaru.




🌈🌈🌈




Hari-hari berlalu. Olimpiade musim panas antar universitas se-Negara Api kali ini diadakan di Konoha. Membuat kota yang terkenal akan keasriannya itu menjadi ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi peserta dari berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan.




Acara 2 tahunan yang diadakan pada saat musim panas dan berlangsung selama kurang lebih 1 bulan ini, tak hanya dijadikan sebagai ajang pembuktian kampus mana yang mendapat predikat terbaik, tapi juga jadi ajang pencarian jodoh. Terbukti banyak yang cinta lokasi selama acara berlangsung. Salah satunya si pinky, yang kecantol pemuda Suna, sahabat Gaara yang bernama Akasuna Sasori.




Alih-alih meminta bantuan Gaara dalam rencana mereka, Sakura malah PDKT dengan Sasori. Yah... ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Yakali...  Sakura harus menjomblo seumur hidupnya. Selama ada kesempatan kenapa tidak diembat saja? Begitu prinsipnya.




Berbanding terbalik dengan Sakura yang tengah kasmaran, Sasuke justru sedang uring-uringan. Masalahnya apalagi kalau bukan Gaara yang selalu meminta Hinata untuk menemaninya kesana kemari selama dia berada di Konoha, dan si buntal kesayangan Sasuke itu mau-mau saja. Alhasil, waktu kebersamaan mereka pun habis tersita. Sialan memang si setan merah itu!




"Hey, Sasuke! Ada apa denganmu? Kau tidak fokus, jangan melamun! Kau ini kapten," teriak Guy sang pelatih kesebelasan Konoha.




"Maaf sensei!" ucap Sasuke lesu.




"Baiklah, ayo berlatih serius! Jika kita mengalahkan Universitas Kumo lusa nanti, maka kita akan masuk final dan melawan Universitas Suna.




"Baiikk!" seru para pemain dari Universitas Konoha serempak.




Mereka pun kembali berlatih dengan semangat masa mudanya Guy sensei, kecuali Sasuke tentu saja, yang merasa semangat masa mudanya sekarat. Sudah cuaca saat ini begitu panas, harus ditambah lagi dengan suasana hatinya yang belakangan ini serasa terbakar.




"Kau kenapa, Teme?" tanya Naruto. Saat ini mereka tengah beristirahat seusai berlatih. Sasuke menggeleng pelan.




"Hinata tidak datang lagi?" kali ini giliran Sai, dan Sasuke kembali menggeleng.




"Memangnya kemana dia?" Kiba pura-pura tak tahu.




Tiba-tiba mata Sasuke berkilat marah. "Dasar si setan merah itu! Sejak dulu dia selalu jadi pengganggu," gumam Sasuke pelan namun masih bisa didengar oleh teman-temannya.




"Kau bilang apa?" Naruto menyela.




"Tidak. Aku hanya kesal," jawab Sasuke cuek.




"Kau cemburu, ya?" Shikamaru mulai memancing.




"Cemburu? Aku? Moso sih aku begitu?" *eh😝




"Kau cemburu karena akhir-akhir ini Hinata selalu menemani Gaara," jelas Shikamaru.




"Aku bukan cemburu. Aku hanya tidak suka. Hinata itu sahabatku, setiap hari kami menghabiskan waktu bersama. Jadi, rasanya aneh saja saat si gendut itu tak ada disampingku," elak Sasuke.




"Yakin hanya itu?" tanya Sai menggoda.




"Ten-tu sa-ja!" jawab Sasuke tak yakin. Rasanya seperti ada yang mengganjal di hatinya, namun Sasuke tak tahu apa itu.




"Aku dengar dari Shion, setelah pertandingan final nanti Gaara akan menyatakan perasaannya," Naruto memanasi.




"Apa kau bilang? Tahu dari mana Shion?" tanya Sasuke tak percaya.




"Gaara meminta bantuan Shion," jawab Naruto cepat.




Sasuke terlihat begitu kesal. Tangannya mengepal, dan rahangnya mengeras. ’Tidak bisa dibiarkan! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi,’ batin Sasuke.




"Aku pulang duluan," ujar Sasuke kemudian. Mengambil tasnya sembarangan kemudian berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya yang kini menampilkan seringainya.




Ya, selama hampir 3 minggu ini teman-teman Sasuke memang selalu memanasinya tentang kedekatan Hinata dan Gaara. Tentu saja hal itu membuat Sasuke semakin uring-uringan saja.




🌈🌈🌈




Malam ini Sasuke memutuskan untuk menemui Hinata seperti biasa. Dengan menggunakan celana jeans selutut serta kaos oblong berwarna biru donker Sasuke pun mendatangi rumah Hinata yang terletak di samping rumahnya.




"Malam, Bi!" sapa Sasuke pada ibu Hinata yang membukakan pintunya.




"Oh, Sasuke. Ayo masuk! Hinata ada di kamarnya. Ada Gaara juga di sana. Kau ke sana saja ya!" ujar Hitomi, ibu Hinata.




Sasuke menatap horor Hitomi saat mendengar ada Gaara juga di kamar Hinata. ’Sedang apa setan merah itu di kamar Hinata?




"Aku ke atas ya, Bi," pamit Sasuke kemudian langsung melesat menuju kamar Hinata di lantai 2.




Sementara itu di kamar Hinata...




Terlihat 2 orang manusia beda gender tengah bercanda tawa, sambil sesekali bernostalgia tentang masa lalu mereka. Namun, kebersamaan mereka harus terganggu dengan kedatangan manusia berambut pantat ayam yang menatap tak suka.




"Sedang apa kau di sini?" todong Sasuke.




"Kau sendiri kenapa ke sini? Rumahmu ’kan di sebelah," balas Gaara.




"Suka-suka aku-lah."




"Begitu juga denganku."




Ada aliran listrik tak kasat mata diantara onyx dan jade itu. Menguarkan aroma permusuhan yang begitu kental.




Hinata merotasikan matanya malas. "Selesaikan dulu urusan kalian! Aku malas melihat dan mendengar perdebatan kalian berdua," potong Hinata kemudian beranjak dari duduknya.




"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.




"Mau buat coklat panas. Kau mau?" tawar Hinata.




"Aku mau jus tomat pakai susu, jangan pakai gula seperti biasa."




"Nawar. Aku tawari coklat panas mintanya jus tomat," dengus Hinata. "Kau mau Gaara?"




"Aku masih punya jus apel," tolak Gaara halus. Hinata pun mengangguk, sebelum keluar dia berkata, "Jangan mengacaukan kamarku! Awas saja kalian berdua!" Hinata memberi peringatan.




🌈🌈🌈




Selepas kepergian Hinata, acara tatap menatap antara Sasuke dan Gaara pun berlanjut. Tajam dan menusuk. Hingga akhirnya Gaara memecah keheningan.




"Sebaiknya, setelah pertandingan final nanti kau tak dekat-dekat lagi dengan Hinata!"




"Kau tidak berhak melarangku!" desis Sasuke tak terima.




"Tentu saja aku berhak, karena aku akan menjadikannya sebagai kekasihku." Sasuke melotot menatap Gaara, yang ditatap sih cuek-cuek saja. "Aku sih tidak mau ya, terus terjebak dalam zona pertemanan," lanjutnya dengan seringaian. Begitu menikmati reaksi kaget Sasuke saat ini.




"Apa kau bilang barusan?" tanya Sasuke tak terima. "Hinata itu milikku, dari dulu sampai sekarang, atau bahkan sampai nanti, dia akan tetap jadi milikku," tegas Sasuke.




"Jangan membuatku tertawa! Kalian ’kan hanya bersahabat, dan suatu saat, kalian pasti memiliki pasangan lalu menikah. Tidak bisa terus selamanya seperti ini. Pasangan kalian akan cemburu dan salah paham nanti," jelas Gaara panjang lebar. "Begitu juga denganku. Aku tidak mau Hinata terlalu dekat dengan sa-ha-bat-nya," tekan Gaara. Sasuke terdiam, mencerna semua ucapan Gaara.




Benar. Mereka hanya bersahabat. Mereka bukan sepasang kekasih apalagi suami istri yang akan menghabiskan waktu seumur hidup bersama. Tidak. Ini tidak bisa. Tidak boleh. Hinata tidak boleh meninggalkannya. Apalagi menikah dengan orang lain. Hampir seumur hidup mereka habiskan bersama. Menjalani suka duka bersama, saling berbagi dan saling mengerti. Sasuke tidak rela jika Hinata jauh darinya.




Pikiran Sasuke kini melanglang buana entah kemana sejak mendengar ucapan Gaara tadi, hingga suara Hinata kembali membuyarkan lamunannya.




"Nih..." Hinata menyodorkan segelas jus tomat pesanan Sasuke, namun pemuda itu masih bergeming. "Hey, Sasuke! Ada apa denganmu? Kenapa diam saja? Jusnya mau tidak?"




"Huh?" Sasuke tak mampu berkata-kata hingga membuat seringai di bibir Gaara semakin lebar. Hingga suara dering ponsel Gaara menyadarkan mereka semua. Gaara sedikit berjalan ke arah balkon untuk menerima panggilannya.




"Maafkan aku, Hinata! Sepertinya aku harus kembali ke asrama," ujar Gaara usai menerima telponnya.




"Yah... ini kan masih jam 8," protes Hinata sementara Sasuke masih diam dengan segala pikirannya.




"Maaf, lain kali aku main lagi. Sepertinya ada yang harus aku diskusikan dengan timku," Gaara menjelaskan.




"Baiklah kalau begitu. Aku antar kau ke bawah."




"Tidak usah. Kau di sini saja. Sepertinya ada yang sedang kena genjutsu," cibir Gaara. Sasuke mendelik tak suka. "Biar aku pamit sendiri dengan Paman dan Bibi," tambahnya.




"Baiklah, hati-hati di jalan ya!" ujar Hinata. Gaara membalasnya dengan anggukkan kepala.




"Yo, Sasuke. Semoga pertandinganmu menang, dan kita bertemu di final." Gaara menepuk bahu Sasuke, kemudian menipiskan jarak mereka. "Lalu tunggu kejutan dariku," bisiknya tepat ditelinga Sasuke. "Daaahh...." Gaara pun melambaikan tangannya kemudian keluar dari kamar Hinata.




Selepas kepergian Gaara, Hinata kembali duduk di ranjangnya, berniat melanjutkan game di ponselnya yang sempat tertunda. Namun, tiba-tiba Sasuke mencekal lengannya.




"Hey, gendut..."




"Hm."




"Kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini?"




"Apa maksudmu? Kau kena serangan jantung?"




"Aku tak tahu. Selama 3 minggu belakangan ini, setiap kali aku berdua denganmu, jantungku selalu berdetak lebih kencang," jelas Sasuke, kemudian ikut duduk di ranjang bersama Hinata.




"Besok kau periksakan ke dokter! Siapa tahu kau punya kelainan jantung," ujar Hinata datar, namun kemudian..."Hey, Sasuke! Kalau kau kena serangan jantung bagaimana? Lalu kalau kau mati aku bagaimana? Siapa nanti yang akan bertengkar lagi denganku? Kau jangan mati dulu, Sasuke!" Hinata mulai lebay.




Sasuke menatap Hinata tak percaya kemudian menoyor kepalanya. "Kau ini bicara apa sih? Kau mendo’akan ku cepat mati ya?" omel Sasuke. Sementara yang diomeli hanya nyengir kuda.




"Kau tidak merasa jantungmu berdebar-debar saat bersamaku, ya?" tanya Sasuke.




Hinata pun menggeleng. "Hanya berdetak seperti biasanya," ujarnya kemudian.




"Kalau begini bagaimana?"




Cup...




Entah ada setan apa, Sasuke tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Hinata. Hinata membelalakkan matanya. Terlalu shock dengan kecupan Sasuke yang tiba-tiba. Sasuke memang sering mengecupnya, tapi hanya di pipi. Dan ini? Ini pertama kalinya Sasuke mengecup bibirnya. Astagaaa!!




Tubrukan bibir itu terjadi cukup lama, dan menimbulkan getaran yang luar biasa diantara keduanya. Setelah melepaskannya, Sasuke menatap Hinata yang masih membelalakkan matanya.




"Aku ingin menciummu lagi, Gendut! Tutup matamu!" ujar Sasuke pelan. Hinata mengerjapkan kedua matanya, masih mencerna.




Dan, tanpa menunggu Hinata menyetujuinya, Sasuke kembali menempelkan bibir mereka. Awalnya hanya tubrukan seperti tadi, namun perlahan Sasuke mulai melumatnya. Matanya terpejam menikmati ciumannya yang masih sepihak. Beda halnya dengan Hinata, sampai saat ini dia masih terkejut. Jantungnya berdebar tak karuan. Ada rasa yang tak bisa dijabarkan saat bibir Sasuke melumat bibirnya.




"Kenapa diam saja?" Sasuke terpaksa melepaskan pagutannya saat tak ada respon dari Hinata. Hinata masih bergeming ditempatnya. "Hey, gendut!"




Panggilan Sasuke barusan mengembalikan Hinata ke alam nyata. "Sasuke..." gumam Hinata pelan.




"Hn."




"Sa-sasuke."




"Apa?"




"Kenapa kau menciumku? Dasar hentai!! Keluar dari kamarku sekarang juga!" jerit Hinata.




"Ta-tapi..."




"Tidak ada tapi-tapi. Keluar sekarang!" Hinata mendorong-dorong tubuh Sasuke agar dia keluar dari kamarnya.




"Hey, nanti dulu. Kau belum membalas ciumanku. Gendut, jangan mendorongku!" protes Sasuke.




"Aku tidak mau tahu. Cepat keluaaaaarrr!!"




Blam...




Hinata membanting pintu kamarnya dan langsung menguncinya setelah Sasuke keluar. Wajahnya kini sudah merah padam. "A-apa-apaan dia itu? Kenapa si bodoh itu mencium bibirku?" gumam Hinata seraya menutupi wajahnya malu.




Sementara di luar, Sasuke terus menggedor-gedor pintu kamar Hinata. Meminta agar gadis itu membukanya. Namun yang ada, Hinata malah menyuruhnya pulang saja. Hingga akhirnya Sasuke pun mengalah dan pulang ke rumahnya. Dengan senyum manis menghiasi bibirnya setelah melihat semburat merah di wajah Hinata. Entah kenapa dia merasa senang melihatnya.




🌈🌈🌈




Keesokan harinya, suasana terlihat canggung. Hinata dan Sasuke terlihat seperti saling menghindar. Bahkan saat mereka menonton Shion yang bertanding mewakili universitas Konoha dalam cabang renang.




Sasuke memang datang bersama Hinata, tapi mereka kini duduk berjauhan. Padahal biasanya mereka begitu lengket seperti perangko. Hinata kini tengah mengobrol dengan Sakura dan Ino, sementara Sasuke sendiri mengobrol dengan teman-teman lelakinya. Namun, keseruan mereka terganggu saat melihat Gaara yang mendekati Hinata.




"Hey, Hinata! Kau menonton juga?" tanya Gaara kemudian duduk disampingnya.




"Gaara, kau disini?" tanya Hinata balik.




"Temanku ikut bertanding," jawab Gaara seadanya. "Ngomong-ngomong, setelah ini kau ada acara tidak?"




"Tidak. Memang kenapa?"




"Aku ingin memintamu menemaniku membeli sesuatu."




"Apa itu?"




"Kejutan," cengir Gaara.




"Baiklah. Cari dimana?"




"Bagaimana kalau ke Konoha Plaza?"




"Baiklah." Hinata pun mengangguk setuju, dan mereka terus mengobrol tanpa menyadari aura gelap yang menguar dari wajah Sasuke yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.




"Sepertinya mereka makin dekat saja," Sai mulai mengompori.




"Kurasa sebentar lagi mereka jadian," Naruto menambahkan.




"Yeah... kuharap begitu. Paling tidak Hinata punya lelaki lain yang bisa ditempeli selain Sasuke." Kiba menambah kobaran amarah di hati Sasuke.




"Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan setan merah itu memiliki Hinata," geram Sasuke.




"Kenapa? Bukankah bagus Hinata memiliki kekasih?" Shikamaru memancing kembali.




"Hinata itu milikku," desis Sasuke.




"Kalian itu hanya bersahabat. Suatu saat dia pasti harus menikah. Tidak bisa bersamamu terus menerus." Sai kembali menambahkan.




"Tidak bisa. Hinata harus tetap bersamaku." Sasuke masih keukeuh.




"Lalu kau mau apa? Hinata itu perempuan, apalagi dia semakin dewasa. Setidak pekanya dia, suatu saat Hinata pasti jatuh cinta," Shikamaru kembali menambahkan.




"Dia harus jatuh cinta padaku!"




"Jangan melawak, Sasuke! Dasar pemaksa," Sai mencibir.




"Aku sedang tidak bercanda," ujar Sasuke. Kemudian dia pandangi satu persatu temannya. "Kalian harus membantuku!"




"Membantu apa?" Naruto bertanya.




"Aku tidak akan membiarkan setan merah itu memiliki Hinata. Akan kujadikan Hinata milikku selamanya sebelum setan merah itu merebutnya," ujar Sasuke yakin hingga membuat keempat temannya menyeringai setan. Tentu saja tanpa sepengetahuannya.




🌈🌈🌈




Olimpiade musim panas akan segera berakhir, dan ini ditandai dengan diadakannya pertandingan final sepak bola. Universitas Konoha dan Universitas Suna melaju ke babak final setelah melumpuhkan semua lawan-lawannya.




Suara riuh sudah memenuhi stadion sepak bola yang ada di kampus Universitas Konoha. Tidak hanya mahasiswa yang berasal dari kedua universitas itu saja yang menonton pertandingan final ini. Mahasiswa dari universitas lain pun banyak yang menonton. Bahkan tak sedikit dari anggota keluarga mereka yang juga ikut menonton, termasuk keluarga Uchiha dan Hyuuga. Kedua keluarga itu memang sengaja sih diminta oleh Sasuke untuk datang, beruntung mereka sedang tidak begitu sibuk sehingga bisa menyempatkan waktunya.




Pertandingan pun dimulai. Kedua tim saling menyerang dengan sengit. Begitu pun dengan kedua kapten mereka. Seperti ada dendam tak kasat mata diantara keduanya. Tak ada skor yang tercipta hingga babak pertama berakhir.




Kini, Sasuke sedang menggiring bola kemudian dicegat oleh Gaara.




"Kau sudah siap dengan kejutan dariku? Setelah ini kau jangan terlalu dekat dengan Hinata," ujar Gaara sambil mencoba mengambil alih bolanya. Namun Sasuke dengan gesit mempertahankannya, dan semakin menggiringnya mendekati gawang. Gaara pun kembali mengejarnya hingga terjadi adegan rebut-merebut bola diantara mereka.




"Jangan mimpi! Aku tidak akan membiarkannya. Kau yang akan kuberi kejutan," balas Sasuke tak mau kalah. Astaga... masih sempat-sempatnya mereka berdebat ditengah pertandingan.




Sasuke kemudian mengoper bolanya pada Naruto. Naruto menggiring sampai mendekati kotak penalti tanpa hambatan yang berarti. Namun saat hendak menendangnya, dia dihadang oleh 2 pemain belakang Suna. Tersisa beberapa detik sebelum pertandingan berakhir. Naruto melihat Sasuke yang tak jauh darinya, bola pun kembali dioperkan padanya. Sasuke menerima bola dengan baik dan langsung menendangnya dengan tendangan yang sangat kencang dari luar kotak penalti. Dan....




"Goooooollll...."




Suara sorak sorai pun bergema dari para mendukung Universitas Konoha setelah Sasuke melesakkan bolanya ke gawang lawan. Tak lama kemudian peluit panjang pun ditiup oleh wasit. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Konoha.




Para pemain Konoha pun saling berpelukan. Bersuka cita atas kemenangannya. Kini tiba giliran mereka untuk bersalaman dengan para pemain Suna.




"Well... aku akui kau cukup hebat Sasuke. Selamat atas kemenangan kalian," ujar Gaara tulus.




"Sejak dulu aku memang hebat." Gaara memutar matanya malas mendengar ucapan Sasuke yang terlalu percaya diri.




"Terserah kau saja," ucap Gaara. "Aku lebih baik menemui Hinata daripada meladenimu," tambahnya.




Gaara melenggang menuju keluar lapangan. Suasana suka cita masih terasa. Para pemain Konoha masih larut dalam euforia kemenangan mereka. Tapi tidak dengan Sasuke. Matanya terus menatap ke arah kaki Gaara melangkah. Sedikit panik karena takut Gaara akan mengungkapkan perasaannya pada Hinata, seperti yang dia tahu dari teman-temannya.




Sasuke melirik kesana kemari mencari cara. Dia tidak menyangka Gaara akan melakukannya langsung setelah pertandingan benar-benar berakhir. Dia pikir Gaara akan mengajak Hinata makan malam romantis berdua seperti yang selalu dibisikkan Shion padanya.




Dengan langkah cepat Sasuke menghampiri pembawa acara saat dia menemukannya. Meminjam mic-nya kemudian mulai berbicara.




"Maaf, aku minta perhatian sebentar!" Sasuke memulai. Suaranya membahana diseluruh penjuru stadion. Suasana yang tadinya ramai pun seketika sunyi senyap. Kini semua perhatian tertuju padanya. Langkah Gaara pun terhenti, dan berbalik menghadap Sasuke. Sebuah seringai terbit dibibirnya.




"Apa-apaan si bodoh itu? Mau apa dia?" komentar Hinata yang duduk tak jauh dari bangku para pemain cadangan tim Konoha. Sementara ketiga temannya hanya senyam senyum saja.




Keluarga Uchiha dan Hyuuga bingung melihat aksi Sasuke yang tiba-tiba. Mereka tak tahu untuk apa Sasuke melakukannya.




"Sekali lagi aku minta maaf karena telah mengganggu acara ini. Aku tidak akan banyak bicara agar kalian bisa segera pulang ke rumah masing-masing," Sasuke melanjutkan. "Tapi, sebelum itu, aku ingin kalian semua yang hadir disini menjadi saksi bahwa aku Uchiha Sasuke akan menjadikan Hyuuga Hinata sebagai kekasihku." Terdengar sorakan diseluruh penjuru stadion.




Keluarga Uchiha dan Hyuuga tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka meski sudah menyangka jika kedua anaknya akan berakhir seperti ini. Lepas dari friendzone mereka. Hinata sendiri shock ditempat dengan mata yang menatap horor Sasuke. Jangan lupakan wajahnya yang langsung merah padam. Sementara teman-teman Sasuke dan Hinata yang mengetahui rencananya menepuk jidat mereka mendengar ucapan Sasuke yang terlalu to the point. ’Bukan seperti ini ’kan rencananya?’ batin mereka. Sedangkan Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka jika rencana mereka akan berhasil, bahkan melebihi ekspektasi.




"Kau dengar Hinata? Mulai hari ini kau bukan lagi sahabatku, tapi kau adalah kekasihku. Semua orang disini menjadi saksinya. Bahkan keluarga kita pun ada disini menyaksikannya. Aku yakin mereka juga tak keberatan. Benarkan?" Sasuke menatap ke tribun dimana keluarganya dan keluarga Hinata berkumpul.




Uchiha dan Hyuuga pun serentak menganggukkan kepalnya refleks meski dengan tatapan yang masih tak percaya dengan apa yang tengah Sasuke lakukan saat ini.




"Tuh ’kan? Orangtua kita saja sudah setuju," ujar Sasuke bangga. "Hey, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Sasuke, kemudian berjalan mendekati Hinata dan berhenti tak jauh dari Gaara. Kurang lebih sekitar 10 meter dari tempat duduk Hinata.




Hinata masih bergeming dengan mulut menganga hingga Shion menyadarkannya.




"Kau dengar tidak? Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Shion menepuk bahu sepupunya dan mengulang pertanyaan Sasuke.




Hinata kembali ke alam nyata. Wajahnya kini memerah sempurna saat menyadari kini dirinya tengah menjadi pusat perhatian.




"Yaaakk... Uchiha Sasuke! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Kau membuatku malu saja. Dasar bodoh!" umpat Hinata. Semua orang yang hadir di stadion pun sweatdrop berjamaah dengan tingkah ajaibnya.




"Ck... kau merusak moment-ku saja, Gendut. Bisa tidak kau sedikit bersikap lemah lembut? Kau tidak tahu ya aku sedang melakukan hal romantis padamu?" Sasuke berdecak kesal.




Apa? Romantis katanya? Romantis apanya?




Begitulah kira-kira yang ada dibenak teman-temannya. Kali ini mereka semua dibuat menganga dengan kelakuan keduanya.




"Romantis apanya? Bikin malu sih iya," celetuk Hinata. "Lagian memangnya aku mau jadi kekasihmu?"




"Aku ’kan tidak bertanya padamu mau apa tidak. Aku hanya bilang jika mulai hari ini kau kekasihku. Jadi, tidak ada yang boleh merebutmu dariku. Aku ini sedang membuat pengumuman, Gendut. Bukan sedang memberi pertanyaan," jelas Sasuke sedikit mengomel.




"Tadi ’kan kau tanya apa aku ingin mengatakan sesuatu atau tidak," protes Hinata tak terima.




"Ya harusnya kau bilang, ’baiklah’, ’oke’, atau ’aku setuju’, bukannya menolak. Aku kan tidak memberimu pilihan."




"Dasar tukang paksa." Hinata mencebikkan bibirnya.




"Baiklah, kalau kau tidak mau jadi kekasihku, kau langsung jadi istriku saja. Kita menikah minggu depan bagaimana? Atau kau mau sekarang juga?" tawar Sasuke.




Bruukkk...




Hinata refleks melempar sepatunya kencang dan mengenai jidat Sasuke, hingga membuatnya hampir terjengkang saking kagetnya.




"Yaakk... Uchiha Sasuke, kondisikan mulutmu itu!" Wajah Hinata semakin merah.




"Haiisshh... kenapa kau melempariku? Kau pikir ini tidak sakit apa?" Sasuke mendengus jengkel. "Lihat nih! Kepalaku jadi benjol, cepat kau obati!" Sasuke meringis kemudian melangkah maju mendekati Hinata. "Cepat turun sekarang juga! Jangan minta digendong, kau itu berat sekali," omel Sasuke. Hinata pun mau tak mau turun dari tribun tempat dia duduk menghampiri Sasuke dengan wajah cemberutnya.




"Salahmu sendiri. Kau ini menjengkelkan tahu tidak?" Hinata mulai memukuli lengan Sasuke saat sudah ada dihadapannya. "Dasar tukang paksa, bodoh, menyebalkan, dan kau juga mesum." Pukulannya semakin brutal. Sasuke meringis kesakitan.




"Sudah hentikan! Sakit nih." Sasuke mencekal lengan Hinata yang hendak memukulnya kembali. "Ayo ke ruang kesehatan, dan obati lukaku! Lihat, kepalaku jadi benjol dan lecet! Bukanya mengobatiku kau malah menambah lukaku. Istri macam apa kau ini?" Sasuke terus mengomel kemudian mulai menggeret lengan Hinata menjauhi lapangan.




"Kenapa kau masih membawa mic-nya?" Hinata tersadar.




"Ah, aku lupa. Tunggu sebentar!" Sasuke melangkah kembali ke tempatnya tadi. "Maaf atas kekacauan yang kami timbulkan. Silahkan lanjutkan kembali acaranya!" ujar Sasuke tanpa beban. "Oh iya, ayah, ibu, paman, dan bibi, sebaiknya kalian segera menyiapkan pesta pernikahan untuk kami. Hinata tidak mau menjadi kekasihku, jadi sebaiknya kami langsung dinikahkan saja," tambah Sasuke masih tanpa beban. Kemudian dia menyerahkan mic-nya pada Gaara yang terlihat sedikit shock dengan kejadian barusan. "Jangan mencari perhatian Hinata-ku lagi, kau dengar!" bisik Sasuke di telinganya sembari berseringai.




Setelah itu Sasuke kembali menggeret Hinata keluar stadion, meninggalkan keluarga, teman-teman, dan para penonton yang mematung ditempat sedari tadi. Mereka semua melongo takjub dengan apa yang mereka lihat, bahkan sedikit tak percaya dengan tingkah ajaib Sasuke dan Hinata. Saat ini mereka semua seperti sedang terkena mugen tsukuyomi.




Hinata dan Sasuke sendiri sudah tak peduli dengan apa yang terjadi. Bahkan saat semua orang di stadion mulai ribut membicarakan mereka, mereka sudah tak ada disana. Biarlah orang mau berkata apa, yang pasti sekarang tak ada lagi yang bisa merebut Hinata dari Sasuke. Dan mereka selamanya akan tetap bersama-sama.




END