1. Gatot (gagal total)

Windu

1. Gatot (gagal total)


Selamat datang di kehidupan Windu dalam dunia cerita yang konfliknya hanya sederhana😍

Harapanku semoga kalian suka

Happy reading! 




Upacara bendera baru berakhir beberapa menit yang lalu. Setelah Pak Bas—kepala sekolah mereka, memberikan amanat yang sangat panjang tak terkira akhirnya mengakhiri amanatnya saat melihat beberapa anak sudah kelimpungan seperti cacing disiram air sabun, bahkan ada juga yang pingsan.

Seorang gadis cantik sedang mengobrol dengan teman sekelasnya, sesekali bergurau saling tertawa. Mereka sedang berjalan meninggalkan lapangan upacara untuk segera memasuki kelas.

"Sal," panggil seorang cowok yang kini mendekati gerombolan anak perempuan tersebut.

Salwa menoleh, lalu tersenyum lebar pada cowok itu. "Winduuu!" teriaknya girang. 

Satu minggu sudah mereka tidak saling bertemu, tidak saling menyapa, tidak saling bertatap muka secara langsung.

Windu membalas senyuman Salwa, "ikut bentar, yuk." ajaknya lalu menarik tangan Salwa untuk sedikit menjauh dari kerumunan.

Windu mengajak Salwa menuju sudut lapangan. Tepatnya di bangku panjang bertingkat yang berjejer di pinggir lapangan, biasanya untuk tribun suporter saat ada acara class meet.

"Gimana kegiatan kemarin?" tanya Windu basa-basi.

"Seru banget. Rame gitu, banyak kenalan baru dari perwakilan daerah seluruh Indonesia. Tapi, sayangnya cuma seminggu." Salwa bercerita dengan antusias. Pengalaman Salwa bertemu orang-orang terpilih di seluruh Indonesia memang paling berkesan.

"Terus ngapain aja?" tanya Windu lagi.

"Kita tuh dikasih materi karya tulis gitu, terus disuruh buat KTI. Kita nggak keberatan sih, cuma dikasih waktu tiga hari buat nyusun laporan soalnya kita rame-rame, setiap kelompok ada tujuh anggota. Aku ke alun-alun juga, waktu itu ada festival musik tapi udah bubar, soalnya aku kesana jam tiga pagi." Salwa berceloteh ria kepada Windu. Menyebarkan rasa gembiranya pada cowok itu.

Satu minggu kemarin, Salwa mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional yang diselenggakaran oleh LIPI. Sekolah mereka mengirimkan 3 perwakilan yaitu, Salwa, Liyana, dan Nilam.

"Terus temen sekelasku ada yang dari Aceh, cowok,  mereka nampilin Tari Saman waktu penutupan acara, sumpah keren banget!"

"Dari Papua juga, Palembang, Kalimantan, Sulawesi pokoknya semua deh."

Windu tersenyum menanggapi ucapan gadis disampingnya itu. Salwa Agista. Cewek cantik sejuta pesona, si gadis cerewet yang ceria, murah senyum dan ramah. Gadis yang tidak pernah bosan bersahabat dengan komputer walau sampai tengah malam demi sebuah kaporan karya tulis. Gadis yang selalu menyibukkan diri dengan kegiatan sekolah. Entah organisasi, ekstrakulikuler dan berbagai perlombaan pun ia ikuti. Tujuannya bukan piala, namun pengalaman dan teman baru. Maka dari itu, dia menjadi idola para cowok di sekolahnya.

"Sal, sebenernya aku mau ngomong sama kamu." Windu memulai pembicaraan yang serius.

"Ya ngomong aja." balas Salwa. 

"Kita udah kenal lumayan lama, aku rasa kita sudah saling mengerti satu sama lain."

"Iya, terus?" 

"Aku—" 

"Kak Salwa!"

Ucapan Windu terpotong dengan teriakan cempreng seorang gadis yang kini berlari menghampiri mereka. 

"Eh, Liyana." sapa Salwa ramah pada gadis itu. 

"Kak, aku cari dimana-mana ternyata disini." keluh Liyana saat mereka sudah berada pada jarak yang dekat. 

"Hehe iya, kenapa? Ada apa, Liyanaku?"
Tanpa membalas ucapan Salwa, Liyana menenteng selembar kertas dengan cengiran lebarnya. 

Salwa memperhatikan dengan seksama, "jadi ceritanya udah dapat ijin ikut ekskul musik?" goda Salwa dengan menyenggol pelan lengan Liyana.

Liyana mengangguk mantab. Semalam ia sudah bersusah payah membujuk papanya untuk menandatangani ekskul tersebut. Dengan rayuan dan bujukan maut ala Liyana yang super duper aneh. Bagaimana tidak, dia rela pergi ke minimarket malam-malam untuk membeli es krim untuk papanya agar mau tanda tangan. Walau pada akhirnya papanya tetap tanda tangan tanpa dirayu, sebebarnya papa Liyana hanya mengerjainya saja. Tapi, Liyana juga tidak rugi, es krim sogokan itu dimakan Liyana sendiri.

Sedangkan Windu mendengus sebal, ia merasa terabaikan begitu saja. Windu menggerutu dalam hati, padahal seharusnya tadi Salwa mengetahui semuanya. Isi dari hatinya yang ia simpan 2 tahun ini. Seharusnya hari ini adalah hari dimana Windu dan Salwa resmi berpacaran. Namun, karena ulah cewek rusuh itu semuanya gagal. Rencana tinggal rencana belaka. Kata seharusnya sudah tidak berarti apa-apa sekarang.

"Windu kok sangar gitu sih, lihatnya." celetuk Liyana yang menyadari perubahan raut wajah Windu.

Mendengar penuturan Liyana, sontak Salwa ikut menoleh pada Windu. "Ada masalah, Ndu?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.

Windu tersenyum tipis. Jelas saja ada masalah. Ingin sekali ia berteriak mengatakan bahwa Windu akan menyatakan perasaannya sekarang, tapi karena satu orang saja, semuanya gagal. 


"Enggak." hanya itu yang dapat Windu ucapkan. Entah mengapa lidahnya menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Salwa.

"Lagi galau, ya?" tanya Liyana dengan nada jenakanyan.

"Apaan sih, lo!" 

"Galau kenapa? Perasaan tadi kamu baik-baik aja." 

"Iya, ih Windu. Kayak orang kesurupan tau nggak." 

"Iya, gue kesurupan! Puas lo?!" bentaknya pada Liyana. 

"Gitu aja ngambek. Gitu aja marah-marah." balas Liyana. 

"Kamu udah punya pacar, Ndu?" 

"Kenapa emangnya?" Windu menyerit heran.

"Ya kalau sekarang galau itu wajar, siapa tau kamu ada masalah sama pacar kamu." jawab Salwa tenang. 

Windu menghela napas pelan. "Aku nggak ada masalah, Salwa." 

Salwa mengangguk paham. "Ya udah, Liyana, yuk aku tunjukin ruangan beserta isinya." ajak Salwa pada Liyana.

Liyana tersenyum senang. Impiannya mengikuti ekstrakulikuler musik sudah tercapai. Sekarang tinggal bagaimana ia menunjukkan kepada semua orang bahwa ia bisa.

"Aku duluan, ya, Windu."
Setelah itu Salwa melangkahkan kakinya meninggalkan area lapangan. Meninggalkan Windu yang sebenarnya sedang kesal. 

Liyana mengikuti langkah kaki Salwa. Namun, sebelum itu ia menoleh ke arah Windu yang masih terdiam. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Tatapan tajam Windu dapat menghunus hingga jantungnya.  Untuk sepersekian detik tidak ada yang ingin memutuskan kontak mata tersebut. Hingga Liyana tersenyum manis penuh arti kepada Windu lalu membalikkan badannya untuk menyusul Salwa.

Windu mengamati punggung Liyana yang kian menjauh. Entah bagaimana caranya, Liyana harus mendapatkan balasannya!

Itulah Windu. Cowok bernama lengkap Windu Yoda Pangayoman yang memiliki sifat cuek, ketus, omongannya pedes, sepedes cabai rawit merah di pasar. Tidak pernah dekat dengan cewek selain Salwa dan Kirani-adiknya. Penggemarnya banyak banget mulai kalangan atas sampai bawah. Maksudnya dia itu menjadi idola kakak kelas maupun adek kelas. Pinter? Iyalah. Ganteng? Beuuh,, nggak usah ditanya. Orang penting? Jelas. Dia itu ketua ROHIS! Bayangin, orang kaya gitu jadi ketua rohis. Kapten tim Futsal. Intinya Windu itu paket komplit. Satu lagi, dia paling tidak suka diganggu.

Itulah Windu. Cowok bernama lengkap Windu Yoda Pangayoman yang memiliki sifat cuek, ketus, omongannya pedes, sepedes cabai rawit merah di pasar. Tidak pernah dekat dengan cewek selain Salwa dan Kirani-adiknya. Penggemarnya banyak banget mulai kalangan atas sampai bawah. Maksudnya dia itu menjadi idola kakak kelas maupun adek kelas. Pinter? Iyalah. Ganteng? Beuuh,, nggak usah ditanya. Orang penting? Jelas. Dia itu ketua ROHIS! Bayangin, orang kaya gitu jadi ketua rohis. Pengurus ekstra PA, Kapten tim Futsal. Intinya Windu itu paket komplit. 


Ehem, ini belum di edit jadi maklumin aja.

2. Cewek Rusuh